PMII RAYON DAKWAH

Darahku terus mengalir, jiwaku terus terbelenggu Menanti datang gejolak membara dalam dada Ku goreskan tinta pena, ku lantunkan...

Inginku



Darahku terus mengalir, jiwaku terus terbelenggu

Menanti datang gejolak membara dalam dada

Ku goreskan tinta pena, ku lantunkan sedikit syair yang bernada

Kujadikan gejolak jiwa

Kau yang disana dan aku yang disini

Jabat erat tanganku

Ciptakan sensasi dihari ini

Buang dilema di dalam diri

Gapai presatasi yang khaki

Jangan putus asa…

Jangan kau pasrah…

Capailah dunia

Raihlah segala dengan angan

Jangan kau frustasi

Pikirkan saja apa yang kau cari

Dimanakah jadi diri harus kau cari

Dan terus berlari

M.S

0 komentar:

Ada dua permasalahan mengenai internet, yang ingin kami perbincangkan, yaitu: seputar informasi hoax dan pengaruhnya terhadap pola pikir...

Internet dan Pola Pikir (Bincang dengan Alexander Antonius Wattimena)



Ada dua permasalahan mengenai internet, yang ingin kami perbincangkan, yaitu: seputar informasi hoax dan pengaruhnya terhadap pola pikir, dan seputar kemudahan akses internet yang menyebabkan pola pikir instan.

Kami memilih bapak Reza A.A Wattimena sebagai narasumber, karena beliau juga tengah menjalankan dan mengembangkan program “Sudut Pandang”. Dan menurut kami, ini sesuai dengan tema yang ingin kami perbincangkan, masalah pola pikir. Berikut adalah hasil wawancara kami dengan beliau via email.

A. Informasi Hoax & Pengaruhnya terhadap Pola Pikir
Perkembangan teknologi komunikasi memudahkan seseorang untuk mencari dan mempublish sebuah informasi. Berkat perkembangan ini, banyak media pemberitaan yang menjamur. Ada yang merupakan perpanjangan dari media cetak, dan ada yang tidak mempunyai versi cetak, dan yang terakhir ini jumlahnya lebih banyak. Tentu, hal ini akan memudahkan kita dalam memperkaya wawasan, jika media yang ada semuanya menyajikan informasi yang valid. Permasalahannya, tidak semua media mempunyai kredibilitas. Banyak media online yang menyajikan informasi hoax.

Pola pikir seseorang ditentukan oleh apa yang mereka serap, informasi. Dan jika informasi hoax terus membanjir, bukankah akan sangat berbahaya?

Menurut bapak, apa penyebab dari maraknya orang mempublish dan mengeshare informasi hoax?

Miskinnya pemikiran kritis yang memang tidak pernah diajarkan kepada kita. Sistem pendidikan kita tidak mengajarkan kita untuk mempertanyakan informasi, tetapi hanya menelannya mentah-mentah. Seni berpikir kritis adalah seni mempertanyakan semua hal yang kita terima dari lingkungan sosial kita, mengkajinya dengan akal sehat, lalu memutuskan, apakah informasi ini bisa dipercaya, atau tidak. Miskinnya berpikir kritis ini ditambah dengan gemarnya orang Indonesia akan hal-hal heboh yang dangkal. Ini menciptakan budaya gosip dan fitnah yang tidak cocok untuk terciptanya hidup bersama yang harmonis dan demokratis.

Dan apa saja ekses negatif dari membludaknya informasi hoax?

Keresahan yang tidak perlu. Orang hidup dalam ketakutan dan kecemasan yang tidak punya dasar di kenyataan. Kedua hal ini akan membuat suasana hidup bersama menjadi tidak enak. Perpecahan dan konflik adalah buahnya. Jika bangsa kita pecah, karena ketakutan, keresahan dan fitnah, kita akan mudah dipergunakan oleh bangsa lain untuk memperkaya diri mereka. Ini yang sedang terjadi sekarang ini: bangsa kita dipecah oleh berbagai hoax dan fitnah yang menyentuh soal SARA, lalu berbagai sumber daya ekonomi dan alam kita secara diam-diam dikuasai pihak asing.

Bapak Reza, anda pernah melakukan perjalanan ke Jerman untuk urusan akademik belum lama ini, apakah di sana (Jerman) juga terjadi hal serupa, membanjirnya informasi hoax? dan kenapa?

Menyebarnya hoax ini gejala yang cukup internasional. Banyak gosip dan fitnah yang tersebar di Jerman. Namun, orang tidak gampang percaya. Jadi, semua gosip dan fitnah tersebut tidak memiliki pengaruh besar di masyarakat. Ini mungkin karena sistem pendidikan Jerman yang terbiasa melatih warganya untuk berpikir kritis. Namun, keresahan dan ketakutan juga cukup tersebar disana, terutama terkait dengan tegangan NATO dengan Russia belakangan ini. Ini memang bukan berita hoax, tetapi sungguh merupakan fakta yang patut untuk diperhatikan bersama. Konflik NATO dan Russia berarti perang dunia.

Menurut bapak, apa saja pengaruh informasi hoax terhadap pola pikir pembaca? dan sejauh mana pengaruh itu?

Hoax jelas menghasilkan kecemasan dan ketakutan yang tidak perlu. Orang takut dan cemas cenderung untuk irasional. Keputusan dan tindakan mereka pun lalu menjadi tidak rasional. Ini bisa menyebabkan konflik dengan orang lain yang merusak tatanan hidup bersama. Di masyarakat yang miskin pemikiran kritis, seperti Indonesia, pengaruh ini amat jelas terasa. Hoax bisa membuat roda politik, sosial dan ekonomi kita bergerak ke arah yang tidak masuk akal, dan justru merusak kehidupan bersama.

Lantas, bagaimana filsafat (sebagai bidang keilmuan yang sedang bapak geluti) memandang informasi hoax? dan bagaimana untuk mengatasinya?

Filsafat, bisa dikatakan, merupakan ilmu yang mengedepankan seni berpikir kritis dan rasional untuk memahami segala yang terjadi di dunia. Di hadapan filsafat, hoax akan otomatis terlihat sebagai hoax, lalu kehilangan pengaruhnya yang merusak. Jika orang mendalami filsafat secara sistematis, kritis dan rasional, ia tidak akan terpengaruh oleh fitnah, gossip maupun hoax yang tersebar di masyarakat. Dari kaca mata ini, saya bisa bilang, bangsa Indonesia amat membutuhkan pendidikan filsafat yang bermutu sekarang ini.

Menurut bapak, apa yang seharusnya dilakukan pemerintah, dan kita sendiri, untuk membendung informasi yang tidak jelas viliditasnya tersebut?

Pemerintah jelas harus menjalankan fungsinya untuk membendung berita-berita palsu yang tersebar di masyarakat. Kantor-kantor berita palsu, baik online maupun cetak, harus segera diberantas. Ada bahaya lainnya, yakni sensor yang berlebihan, sehingga menghancurkan kebebasan berpikir dan berpendapat. Nah, pemerintah harus cukup peka membedakan antara memberantas berita palsu di satu sisi, dan membatasi kebebasan berpikir dan berpendapat secara semena-mena di sisi lain. Yang satu harus terjadi. Namun, jangan sampai yang kedua yang terjadi. Selain itu, sistem pendidikan kita juga harus memberi ruang besar untuk melatih berpikir kritis, dimulai dengan pendidikan para calon guru. Anda bisa lihat tulisan terbaru saya di www.rumahfilsafat.com yang berjudul “Pendidikan Salah Kaprah”. Inti dari seni berpikir kritis adalah berani bertanya. Kita bisa melakukan itu mulai sekarang: bertanya tentang kebenaran dari semua informasi yang kita terima dari luar dengan menggunakan akal sehat dan nurani yang kita punya.

B. Kemudahan Akses dan Pola Pikir Instan
Internet memudahkan kita untuk mengakses berbagai hal, karena banyak konten yang terpampang di sana. Kita bisa mengakses sebuah hiburan, informasi, sampai materi pendidikan. Semuanya ada di internet. Tetapi kemudahan akses ini juga memiliki dampak negatif, di antaranya adalah pola pikir instan. Banyak orang yang secara instan mendownload tugas akademik, mentranslit bahasa asing dengan google translate, dan lain sebagainya. Jika hal ini terus berlanjut dan meluas, maka akan terjadi era ‘malas belajar dan berfikir’. Bukankah ini merisaukan?

Bagaimana tanggapan bapak tentang pemanfaatan internet secara negatif, seperti mendownload beberapa tugas akademik?

Ini jelas resiko yang harus kita ambil dengan keberadaan internet sebagai gudang informasi dunia. Jalan keluar dari masalah ini cuma satu, yakni membangun sistem. Pertama, para pengguna internet harus dilatih cara mengutip sumber, baik secara langsung maupun tidak. Ini bagian dari seni menulis ilmiah. Kedua, para peserta didik, dan juga para guru maupun dosen, harus dilatih untuk berpikir mendalam tentang segala sesuatu. Pendidikan filsafat yang bermutu tinggi memainkan peranan penting disini. Tiga, kita juga harus membangun sistem untuk mengecek hasil karya yang ada, supaya bisa terbebas dari plagiarisme. Ketiga hal ini adalah sebuah proses yang harus dilakukan secara bertahap, namun pasti. Hanya dengan begini, kita bisa menggunakan internet sebagai alat bantu yang efektif, dan menjaga jarak dari sisi gelapnya. 

Kami melihat bahwa kemudahan akses ini akan menyebabkan pola pikir instan, orang tidak lagi berpikir keras untuk menyeleseikan suatu hal, orang tidak lagi giat menghafalkan suatu rumus atau bahasa asing, karena sudah tersedia di internet. bagaimana menurut bapak?

Sekali lagi, inilah sisi gelap dari internet secara khusus, maupun sisi gelap dari perkembangan teknologi secara umum. Kita mau semua serba cepat. Proses tidak diperhatikan. Hasil menjadi tujuan utama. Mental koruptor adalah versi ekstrem dari pola berpikir instan. Orang mau menjadi kaya tidak dengan usaha dan kesabaran, tetapi dengan mencuri, apalagi mencuri uang rakyat. Ini jelas merupakan sebuah gejala sosial yang harus ditanggapi secara kritis secara terus menerus. Salah satu jalan keluarnya adalah dengan membangun sistem, seperti yang saya jelaskan sebelumnya. Namun, bidang-bidang lainnya tentu memerlukan jalan keluar yang lebih sesuai.

Menurut bapak, sejauh mana bahaya pola pikir instan bagi dunia pendidikan, masyarakat dan Indonesia?

Pola pikir instan akan menghasilkan mental koruptor, seperti saya jelaskan sebelumnya. Orang mau kaya, tetapi tidak mau usaha dan bersabar di dalam proses. Gandhi menjabarkan tujuh dosa sosial. Saya melihat, pola pikir instan akan menghasilkan orang-orang yang sesuai dengan penggambaran tujuh dosa sosial tersebut: kekayaan tanpa kerja, politik tanpa prinsip, agama tanpa pengorbanan, ilmu pengetahuan tanpa kemanusiaan, bisnis tanpa moralitas, pengetahuan tanpa karakter dan kenikmatan tanpa suara hati. Jika mayoritas dari kita seperti ini, maka seluruh susunan masyarakat akan hancur. Kita akan hidup dalam konflik dan ketegangan terus menerus.

Menurut bapak, Apa formula yang tepat dalam mengatasi hal di atas, pemanfaatan internet secara negatif dan pola pikir instan?

Jalan keluar paling baik adalah dengan membangun sistem yang mendorong orang untuk mampu berpikir mendalam, dan bertindak penuh tanggung jawab dalam hidupnya, termasuk dalam soal penggunaan informasi. Pendidikan filsafat yang bermutu tinggi jelas memainkan peranan amat penting dalam hal ini. Membangun sistem tidak bisa dilakukan secara instan, apalagi jika kita ingin mengritisi budaya instan yang tersebar di masyarakat kita. Membangun sistem adalah proses yang membutuhkan kerja sama dari berbagai pihak.

Biodata Singkat Reza Alexander Antonius Wattimena
Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang. Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi “Sudut Pandang“. Penulis dan Peneliti di bidang Filsafat Sosial-Politik, Pengembangan Organisasi dan Kepemimpinan, Filsafat Ilmu Pengetahuan serta Filsafat Timur, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München Jerman dengan disertasi berjudul Zwischen kollektivem Gedächtnis, Anerkennung und Versöhnung. Untuk lebih lengkapnya, seperti melihat karya-karyanya, bisa lihat di website beliau,

www.rumahfilsafat.com

DPTI PC PMII Semarang

0 komentar:

Menarik sekali bagaimana Mahbub Djunaidi mengisahkan seorang bocah kecil putra dari seorang pegawai Mahkamah Tinggi Islam Negeri yang h...

Kegigihan Mahbub, Warisan untuk Pemuda



Menarik sekali bagaimana Mahbub Djunaidi mengisahkan seorang bocah kecil putra dari seorang pegawai Mahkamah Tinggi Islam Negeri yang hidup ‘nomaden’ karena negerinya sedang kacau balau karena masa transisi kemerdekaan. Mahbub  Djunaidi menjadikan bocah kecil belasan tahun sebagai tokoh utama dalam novel bergenre roman tersebut, yang oleh asumsi penulis tokoh tersebut merupakan Mahbub Djunaidi itu sendiri.

Ditengah lingkungan keluarga sederhana yang taat beragama, Mahbuh kecil ditempa begitu keras oleh ayahnya. Nalar kritis Mahbub kecil mulai terbentuk ketika dirinya sekeluarga pindah dari Jakarta ke Solo akibat chaos di ibukota Jakarta, ibukota dipindah ke Yogyakarta.

Bersamaan dengan itu Mahbub kecil sekeluarga pindah ke Solo. Disana Mahbub kecil mulai berfikir apa sebenarnya yang terjadi di Negerinya, pernah pada suatu kesempatan, forum kelas ketika gurunya menjelaskan pelajaran sejarah tentang perjuangan para laskar dan pemuda  yang bersatu melawan penjajah, tiba-tiba Mahbub menyela:
Tapi kita kalah lagi pak,  tadi saya membaca Koran, kita berunding dengan musuh di Linggarjati, apakah tidak takut kalau nanti kita dibohongi lagi seperti pangeran Diponegoro?

Sebuah pemikiran kritis dari seorang bocah kelas 4 SD yang tidak ditemui diantara bocah seusianya di mana kekhawatirannya ternyata menjadi sebuah kenyataan, kesepakatan gencatan senjata pada waktu itu dilanggar oleh Belanda.

Sekolah pada waktu itu tidak bisa inten seperti sekarang diakarenakan lemahnya stabilitas nasional akibatnya sering libur. Hal ini yang membuat Ayah Mahbub berinisiatif menyekolhakannya ke pondok pesantren. Meskipun akhirnya tidak jadi karena lagi-lagi karena alasan stabilitas keamanan nasional.  Akhirnya Mahbub di  ‘titipkan’ belajar kepada Kyai Dimyathi untuk belajar hingga dalam prosesnya dia bertemu ustad Amir yang meinjam buku-bukunya untuk Mahbub kecil sejalan dengan hobi membacanya. Hidupnya yang sering bergesekan langsung dengan serdadu Belanda (dan Jepang) membuat mentalnya terbentuk sedemikian kuat, dikisahkan suatu kesempatan dia bersama kawannya mencuri peti hasil jarahan para serdadu Belanda yang isinya bongkahan Al-Qur’an.

Mahbub, Sang Pejuang Ideologi

Novel ini merupakan pemenang Sayembara mengarang roman yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta tahun 1978. Novel itu dicetak pertama kali oleh Pustaka Jaya dan dicetak ulang oleh Surah Sastra Nusantara dengan tambahan obituari berjudul “Mahbub  Djunaidi Milik Kita Bersama,” karya Umar Said, asal Malang yang meninggal di Paris. Obituari ini sangat komprehensif sebagai  deskripsi pribadi Mahbuh Djunaidi dan  penialaian orang-orang terhadap Mahbub Djunaidi. Penulis sedikit menukil paparan Umar Said pada tahun 1976. Saat Mahbub dipenjara rezim Orde Baru karena prinsip hidupnya yang kuat dan sikap kritisnya pada waktu itu.

“Bagi saya pribadi, apa ang terjadi dalam diri Mahbub dalam tahun 1978 merupakan sesuatu yang memberikan tanda bahwa pada perkembangan yang penting dalam perjalanan sejarah hidupnya.” Dalam tahun itulah dia dimasukkan dalam penjara oleh Orde Baru, berita tentang ditahannya mahbub ini saya baca di Paris.

Tidak ada latar belakang yang pasti tentang mengapa ia dipenjara, yang jelas adanya suara-suara yang makin kritis terhadap pemerintahan Orde Baru. Suara kritis ini sudah mulai terdengar sejak Malari tahun 1974. Terlepas berbagai analisis tentang meletusnya peristiwa Malari (antara lain: rekayasa Ali Murtopo, pertentangan antara Jenderal Sumitro dengan kelompok Suharto yang lain, manipulasi kekuatan mahasiswa oleh Orde Baru, dll) tetapi jelaslah ada berbagai golongan mahasiswa yang mempertanyakan akan kebenaran sistem politik Orde Baru. korupsi yang makin kelihatan merajalela telah menjadi topik berbagai aksi mahasiswa waktu itu.

Apakah situasi yang demikian merupakan faktor sehingga Mahbub mengambil sikap menentang Orde Baru, yang mengakibatkan ia mengalami penahanan? Keliahatannya memang demikian. Fairuz menceritakan betapa gencarnya godaan-godaan yang harus dilawan oleh Mahbub waktu itu, ada yang mengajaknya ‘berbisnis’, mencetak dan distribusi kitab suci Al-Qur’an. Di kementerian agama banyak proyek-proyek ‘basah’ yang bisa mendatangkan uang dengan mudah, dan tentu cara ini menyalahi prosedur. Sebagian temannya ada yang sudah menempuh jalan itu dan menjadi kaya. Tetapi, mahbub tidak mau terseret dalam kegiatan haram semacam itu. Ia memilih jalan lain yang halal yang sesuai hati nuraninya. (hal. 168-169).

Setidaknya kita bisa merasakan godaan dahsyat politik praktis pada waktu itu, dan itu tidak merubah pendirian Mahbub Djunaidi. Hal-hal semacam ini yang harus dicontoh bagi kita semua, terutama para kader PMII hari ini. Tentang penilaian beberapa orang yang pernah bersinggungan dengan Mahbub Djunaidi penulis akan menukil pandangan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tentang sosok Mahbub Djunaidi dalam sebuah pidato peringatan wafatnya Mahbub Djunaidi.
Mahbub Djunaidi merupakan tokoh gerakan, pejuang ideologi, jurnalis dan rekan bergaul  yang kerap kali  kocak alias lucu. Aset perjuangan Mahbub terhadap bangsa ini cukup banyak dan terglong besar. Dia memikirkan hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan kekinian dan masa yang akan datang. Ketika dimasa orde lama, Mahbub yang waktu itu merupakan guru dan kakak saya dikalangan muda NU, sudah memikirkan tentang suatu masa kelak. Masa yang dipikikan dan dimakasudkannya ternyata menjadi kenyataan yakni Orde Lama.

Bahkan menurut Gus Dur sebenarnya Bangsa Indonesia telah kehilangan salah satu putra terbaiknya, maka sebenarnya penghargaan yang pantas untuk Mahbub Djunaidi bukan dalam bentuk piagam atau tanda jasa. Melainkan dalam bentuk kesediaan bangsa Indonesia melanjutkan pemikiran, cita-cita pejuangan beliau. (hal.176).

Terdapat unsur-unsur sejarah yang terkandung dalam novel ini, diksinya khas sastrawan. Pengarang yang cerdas, menyamarkan peristiwa-peristiwa konflik yang mencekam dengan jenaka. Mengingat umur karya ini yang cukup tua (43 tahun) diksi-diksinya mungkin tidak sesusai dengan generasi saat ini.

Secara umum buku ini penting untuk dibaca bagi generasi muda, terutama para kader – kader PMII untuk menambah wawasan dan memompa motivasi. Serta sebagai bentuk  refleksi bagaimana menjadi kader yang ‘seharusnya’. Melalui pribadi Mahbub Djunaidi kita bisa belajar bagaimana Mahbub muda mejadi Nahdliyyin yang menonjol pada zamannya, seorang penulis cerdas, kritikus, pemimpin, dan pembaharu bangsa pada zamannya.


Judul Buku     : Dari Hari Ke hari
Penulis             : Mahbub Djunaidi
Penerbit            : Surah Sastra Nusantara
Tahun Terbit    : Februari 2014
Kota Terbit      : Yogyakarta
Tebal Buku      : Vii + 182 halaman + Cover
Dimensi Buku : 14 X 19cm

Oleh: Fathan Zainur Rosyid (Mahasiswa)

Sumber: http://www.pmiisemarang.or.id/2017/12/kegigihan-mahbub-warisan-untuk-pemuda.html

0 komentar:

Dunia filsafat secara khusus melahirkan banyak tokoh-­tokoh filsafat muslim yang banyak bergelut dengan dunia filsafat, kegiatan ilmu p...

Belajar Dunia Filsafat Ar-Razi



Dunia filsafat secara khusus melahirkan banyak tokoh-­tokoh filsafat muslim yang banyak bergelut dengan dunia filsafat, kegiatan ilmu pengetahuan mencakup penerjemahan buku­buku filsafat Yunani yang kemudian dikembangkan tokoh filosofis muslim.

Dengan dasar tersebut dapat dipahami adanya keterikatan antara filsafat Yunani dan filsafat Islam dalam hubungan pemikiran demikian pula dengan filsafat modern yang ada. Misalnya filosof Islam banyak mengambil pemikiran Aristoteles dan mereka banyak tertarik terhadap pikirannya. Sehingga banyak teori­teori filosof Yunani diambil oleh filosof Islam.

Kedatangan filosof Islam yang terpengaruh oleh orang­orang sebelumnya dan berguru pada filosof Yunani. Bahkan kita hidup pada abad ke­20 ini, banyak berguru pada orang Yunani dan Romawi, akan tetapi berguru tidak berarti mengkiblatkan dan mengutip, sehingga dapat dikatakan bahwa filsafat Islam hanya kutipan semata­mata dari Aristoteles atau lainnya.

Akan tetapi Filsafat Islam telah mampu menampung dan mempertemukan berbagai Aliran fikiran. Para filosof Islam pada umumnya hidup dalam lingkungan dan suasana yang berbeda dari apa yang diAlami oleh filosof­filosof lain. Sehingga lingkungan sangat berpengaruh terhadap pemikiran mereka. Tidak dapat dipungkiri bahwa dunia Islam berhasil membentuk filsafat yang sesuai prinsip agama dan keadaan masyarakat Islam itu sendiri.

Demikian pula adanya hubungan dengan fase­fase pemikiran manusia dan tidak dapat dihindari bahwa pemikiran filsafat Islam merupakan sumber dari pemikiran klasik. Perpaduan pikiran tersebut diaktuAlisasikan dalam system dan gambaran sendiri dan memberikannya denga label Islam.

Keunggulan khusus filsafat Islam dalam masAlah pembagian cabangnya adalah mencakup ilmu kedokteran, biologi, kimia, musik ataupun fAlak yang semuanya menjadi cabang filsafat Islam. Para ulama Islam memikirkan suatu jalan filsafat ada yang lebih berani dan lebih pedas daripada pemikiran mereka yang dikenAl dengan nama filosof Islam, dapat diketahui bahwa pembahasan ilmu kAlam dan tasauf banyak terdapat pikiran dan teori-teori yang tidak kAlah teliti dari pada filosof­filosof Islam.

Oleh Karen itu Ar­Razi merupakan filosof Muslim muncul pada abad ke­10 yang menggemparkan dunia pada masanya dengan falsafah lima kekalnya. Serta kritikannya yang mengatakan bahwa tidaklah masuk akal bahwa Tuhan mengutus para nabi, karena mereka banyak melakukan kemudharatan.

Setiap bangsa percaya hanya kepada para nabinya, dan menolak keras yang lain yang mengakibatkan terjadinya banyak peperangan keagamaan dan kebencian antar bangsa yang memeluk berbagai agama yang berbeda.

M.S

0 komentar: