PMII RAYON DAKWAH

http://cdn2.tstatic.net Sejenak berpikir Memandang dunia dalam sebuah kotak Kotak dimana ku berada Kotak dimana mataku tak mampu men...

Terperangkap

http://cdn2.tstatic.net
Sejenak berpikir
Memandang dunia dalam sebuah kotak
Kotak dimana ku berada
Kotak dimana mataku tak mampu menembusnya
Sejenak berfikir
Dalam sebuah keabstrakan
Akankah kan terwujud
Dalam sebuah impian yang kongkrit
Hmm.. kurasa tak mungkin
Iya …. Memang tak mungkin..
Bila ku berada disini
Ku bagaikan terperangkap
Terperangkap dalam imajinasi
Imajinasi yang terus membelenggu
Ohhh.. Tuhan
Bebaskan aku dari jeratan ini
Ku tak mau terbelenggu
Dalam kotak hayalan ini
Ku ingin bebas
Ku ingin memandang luasnya dunia
Ku ingin meraihnya
Ku ingin megenggamnya
Dalam sebuah kepastian hidup.

Tak Mampu

Dipenghujung indahnya mimpi
Kau muncul laksana pangeran berkuda putih
Hatiku terpaku oleh eloknya parasmu
Mungkinkah kau pujaan hatiku..??
Hingga ragaku terbangun dari indahnya kalbu
Hati yang lesu karena mengharap kehadiranmu
Tak kukira hati yang berkobar oleh api cinta
Kini telah tertutup oleh duka nestapa
Ketika datasng masa pertemuan kita
Hatiku lumpuh oleh getaran cinta

Oleh: Sahiq Asrofi
(Penulis adalah kader PMII Rayon Dakwah Tahun 2017)

2 komentar:

https://www.hipwee.com Secara formal Pergerkan Mahasiswa Islam Indonesia lahir di bumi nusantara ini sejak 59 (lima puluh sembilan) si...

PMII dalam Simpul Sejarah Perjuangan

https://www.hipwee.com
Secara formal Pergerkan Mahasiswa Islam Indonesia lahir di bumi nusantara ini sejak 59 (lima puluh sembilan) silam, organisasi pergerakan ini terlahir sejak lama, namun hal yang masih menjadi sebuah pertanyaan bagi semua warga pergerakan baik yang masih aktif maupun yang sudah dikatakan alumni pertanyaan itu adalah “mahluk apa sih PMII itu yang sebenarnya“?

Untuk dapat menjawab pertanyaan ini tentunya tidak semudah kader-kader saat membahas teori, karena hal ini membutuhkan banyak indikator-indikator untuk dapat menjawab. Sebenarnya eksistensi Pergeakan Mahasiswa Islam Indonesia dalam dunia gerakan kemahasiswaan maupun langkah perjuangannya sejarah bangasa ini begitu terasa dan dilihat bersama.

Pergeakan Mahasiswa Islam Indonesia tidak hanya berdiri untuk hidup namun dalam arti ada exis PMII dari sejak kelahirannya sampai sekarang terus bergerak untuk exis tidak sekedar hidup, kalau hanya sekedar hidup itu bermakna pasip dan hanya sebagai objek, sedangkan exis bermakna aktif dan menjadi subjek dalam kehidupannya, dengan meminjam bahasa GUS IM bahwa sebagai warga pergerakan harus memahami masa lalu organisasinya melihat masa sekarang untuk merancang masa depannya, memahami masa lalau berarti memahami sejarah bagai mana PMII itu terlahir, serta persinggungannya secara sosio histories maupun sosio cultural dengan medan geografis dimana PMII berada.

Melihat masa kini berarti sebagai warga peergerakan dituntut untuk merumuskan format kekiniannya sebagai langkah untuk melangkah ke depan, dengan bekal visi geopolitik dan kesadaran inilah warga PMII diharapkan mampu merancang masa depannya sendiri yang otonom, merdeka serta menjadi subjek sejarah.

Ingat Proses yang Telah Mati

Fauzan alfas yang menulis buku PMII dalam simpul-simpul sejarah perjuangan, dalam sambutannya beliau menyatakan ada sebuah keinginan untuk menulis bukunya itu, karena beliau merasa peerihatin pada saat beliau masih aktif bergabung bersama warga pergerakandan beliau juga menyatakan bahwa kita merasa teramat kekurangan untuk memahami dan benar-benar mengerti akan PMII ini, di tambah lagi belum tersocialisasikanya produk-produk hukum, dokumen-dokumen histories PMII kepada warga pergerakan secara merata, terutama belum adanya buku tentang sejarah perjuangan PMII yang di tulis secara komprehensif, dan sistematis.

Sehingga berakibat kurangnnya pemahaman terhadap PMII ini, masih banyak kesimpangsiuran yang dirasakan didalam memandang hakikat perjuangan PMII secara proporsional, peran dan sepak terjang PMII dalam perjalanan sejarahnya di negri indonesia tercinta ini, dihawatirkan tidak terekam dengan secara utuh oleh warga pergerakan, padahal sejarah perjalanan hidup pergerkan itu sangatlah penting sekali untuk di socialisasikan guna untuk melakukan proses kaderisasi di lingkungan warga PMII.
Adapun yang di tulis itu mulai dari BAB I yaitu berbicara sekitar embrional kelahiran PMII (1955-1963) sampai bab yang terakhir pada BAB IX beliau menulis posisi dan peran PMII dalam arus pragmatisme.

Penulis mencoba untuk merangkum dari buku yang di tulis oleh sahabat fauzan alfas ini, yang di awali dari cikal bakalnya PMII, ide dasar lahirnya organisasi PMII ini karena kesadaran dari para mahsiswa yang bernaung di bawah organisasi nahdlatul ulama, yang pertamanya para kader muda NU ini berkiprah di organisasi IPNU, karena memang pada waktu itu belum ada organisasi yang secara khusus untuk mewadahi para mahasiswa yang bernaung di NU,

Tetapi seiring berjalannya waktu PMII akhirnya terlahir sebagai organisasi kemahasiswaan, yang tentunya sangat banyak rintangan untuk sampai terbentuknya organisasi gerakan ini, tapi karena atas dasar keinginan yang kuat dan keyakinan yang membuat para pendiri PMII tak patah semangat, pada saat terlahirnya organisasi gerakan menimbulkan beberapa reaksi baik yang datang dari orang-orang HMI 

Karena memang orang-orang yang mendrikan PMII ada sebagiannya yang berasal dari organisasi HMI seperti H Mahbub Junaidi yang menjadi ketua umum pertama PMII, dan sahabat-sahabat yang lainnya pun menjadi korban kemarahan orang-orang HMI, misalnya saja di Jogjakarta kegoncangan itu terjadi bersamaan dengan disidangkannya Syiful Mujab oleh pengurus cabang HMI Jogjakarta, yang kemudian ia di pecat dari ke anggotaan HMI, demikian juga tuduhan-tuduhan pemecah belah umat Islam selalu di alamatkan kepada Tolchah Mansyur dan Ismail Makki, dua orang yang mantan pengurus cabang HMI Jogjakarta.

Walaupun perlakuan HMI demikian tidak membuat PMII khususnya Mahbub Junaidi sebagai ketua umum PMII untuk membalas dendamnya malahan pada saat HMI nyaris dibubarkan oleh pemerintahan menjelang meletusnya G. 30S/PKI. H Mahbub Junaidi malah menolongnya dari kepunahan mereka.

Jalan Anak Nakal Bersama NU

Organisasi gerakan ini tentunya dengan semangat kebangsaan dan cinta tanah air, ketika pemerintahan yang begitu otoriter yang menindas rakyatnya berusaha untuk membela mereka dengan melakukan perlawanan-perlawanan dalam berbagai bentuk, aksi jalanan yang pada waktu itu masih begitu masifnya karena memang jiwa-jiwa mereka terpanggil untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang menyengsarakan rakyat bumi pertiwi ini.

PMII sebagai organisasi yang terlahir dari rahim NU, tentunya memang pada awalnya PMII harus mengikuti semua tindakan seperti apa yang di lakukan oleh orang-orang NU sampai ketika NU pada waktu itu berkiprah di dunia politik maka para mahasiswa yang bernaung di bawah nahdlatul ulama, secara tidak disadari telah ikut terbawa arus.

Namun ketika para kader PMII menyadari bahwa PMII harus terlepas secara setruktural dan bersikap mandiri dalam melakukan pola tindakannya, tapi tetap tidak melepaskan diri secara kultur, dimana PMII tetap dengan pendiriannya untuk terus berjuang mempertahankan idologi Ahlussunah Waljama’ah dan mengikuti teradisi-teradisi seperti apa yang dijalankan oleh organisasi nahdlatul ulama.

Oleh: Dian Fitriani
(Penulis adalah kader PMII Rayon Dakwah Tahun 2013)

0 komentar:

https://khazanah.republika.co.id 20 Desember 1993 . Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) meresmikan Declaration on The eliminat...

Menanti Gerakan PMII Berbasis Gender di Indonesia

https://khazanah.republika.co.id
20 Desember 1993. Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) meresmikan Declaration on The eliminatin of Violence Against Women atau Deklarasi penghapusan kekerasan terhadap perempuan. Definisi kekerasan terhadap perempuan tercantum dalam pasal 1 yang berbunyi “Dalam Deklarasi ini, yang dimaksud “kekerasan terhadap perempuan” adalah setiap  perbuatan berdasarkan perbedaan jenis kelamin yang berakibat atau mungkin berakibat kesengsaraan atau penderitaan perempuan secara fisik, seksual atau psikologis, termasuk ancaman perbuatan tertentu, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang baik yang terjadi di depan umum maupun dalam kehidupan pribadi”

Dengan demikian, ruang lingkup kekerasan terhadap perempuan terjadi dalam rumah tangga (keluarga), di masyarakat luas (tempat publik) serta yang di wilayah negara. Landasan hukum perumusan ini adalah Konvensi Penghapusan Segala bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (1979) dan dikuatkan oleh Rekomendasi Umum CEDAW Convention on the Elimination of all Discrimination Againts Women No. 19/1992 tentang kekerasan terhadap perempuan sebagai kekerasan berbasis gender dan merupakan suatu bentuk diskriminasi terhadap perempuan.

Benih-benih geraka kesetaraan gender (feminisme) mulai muncul sekitar Abad ke-19. Gerakan yang terhimpun dalam wadah Women Liberation (Gerakan Pembebasan wanita) ini berpusat di Amerika. Arah perjuangan Women Libration  ini adalah untuk menuntut persamaan antara kaum wanita dan kaum pria.
Berbeda jauh dengan keadaan abad ke-20, gerakan gender fokus aktifitasnya pada perjuangan untuk mendapatkan hak pilih. Pada waktu itu, suara kaum perempuan disejajarkan dengan kaum anak-anak sehingga mereka tidak memiliki hak pilih. Sehingga pada tahun 1948, sejumlah kaum perempuan meggelar unjuk rasa di Senece Fall, New York, untuk menuntut hak-hak mereka sebagai warga negara.

Geraka kaum feminis ini sempat karam dan pasang kembali pada tahun 1960, gerakan feminis pada priode ini terinspirasi dari buku berjudul The Feminine Mystiquue (1963) karya Betty Freidan. Dalam bukunya Betty mengutarakan bahwa peran wanita di sektor domestik, yakni sebagai ibu rumah, menjadikan penyebab utama tidak berkembangya kepribadian wanita. Pemikiran ini akhirnya memunculkan pemikiran negative terhadap intitusi pernikahan. Sebab konsekuensi pernikahan adalah memiliki anak dan kehadiran anak dianggap sebagai beban.

Gerakan Kaum Feminis dalam Islam

Tingkat agresivtas yang sangat menghawatirkan ditunjukkan oleh kaum feminis di dunia islam dalam dua dekade terakhir perempuan Pakistan telah menjadi target gerakan feminis. tahun 1975 pemerintah Pakistan mendorong perempuan untuk mengikuti pemikiran feminisme, walaupun pada tahun 1977 ketika proses islamisasi dan meliterisasi telah berhasil membendung pemikiran ini, akan tetapi pada tahun 1980, gegrakan feminis kembali bermunculan di Pakistan secara segnifikan. Indonesia mengalami nasib yang sama dengan Pakistan. Kesetaraan gender disosialisasikan dengan gencar dan sistematis keseluruh dunia, melalui ormas, LSM, lebaga pendidikan formal dan non formal.

Ruang lingkup gerakan feminis begitu luas, mulai tingkat internasioal sampai institusi masyrakat yang terkecil. Yaitu RT dengan mengatas namakan HAM, para aktivis perempuan kemudian berusaha mempengaruhi pemerintah dalam masalah kebijakan sampai teknis oprasional. Usaha mereka sepertinya membuahkan hasil sehingga pada tahun 1984 pemerintah Indonesia mengesahkan UU no. 7. Kemudian nomer 23 tahun 2004 tentang PKDRT (Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga), UU perlindungan anak, dan adanya upaya legalisasi aborsi melalui amandemen UU kesehatan. Dalam bidang politik, feminis berada dibelakang keluarnya UU pemilu tahun 2008 kuota caleg perempuan sebanyak 30 persen.

Aktivis perempuan di Indonesia masih jarang di publiksikan, jika flash back pada sejarah Indonesia yang kala itu sebelum merdeka, kerajaan-kerajaan dipimpin oleh Ratu-Ratu yang tersebar mulai dari sabang sampai merauke. Akan tetapi dalam masa selanjutnya yaitu pada masa kemerdekaan dan pasca kemerdekaan aktivis dan pemimpin perempuan mulai menyusut, terdapat beberapa tokoh yang gigih seperti R.A Kartini, Cut Nyak Dien, dan beberapa tokoh lainya.
Penyusutan Srikandi Bangsa

Terkikisnya hiroh pemimpin perempuan dibangsa ini bisa terjadi karena adanya faktor politik yang mempengaruhi, ketika wadah untuk perempuan go public dibatasi oleh aturan-aturan dan kontrak politik.Selanjutnya juga ada faktor budaya, dibeberpa daerah di Indonesia yang membataasi ruang gerak perempuan, terutama dari lingkungan keluarga yang memberikan dukungan terbesar. Banyaknya tuduhan yang ditunjukan kepada islam dengan lebel agama yang bias gender. Sementara hanya sedikit sekali padangan yang menyatakan bahwa islam adalah agama yang mengajarkan keadilan dan kesetaraan gender.

Tuduhan islam sebagai agama yang bias gender seringkali dikuatkan dengan argumentasi dalil-dalil agama (ayat-ayat al-Qur’an dan al-Sunnah/ Hadis) yang berisi ketentuan yang lebih memihak kepada kaum laki-laki dan mendeskriditkan kaum perempuan.
Untuk bisa memahami pandangan islam terhadap perempuan secara tepat, perlu diketahui terlebih dahulu posisi perempuan sebelum islam datang. Perempuan pada masa pra islam tidak mempunyai nilai sama sekali. Mereka bagaikan barang yang diperjual belikan, dan bahkan dapat diwarisi, praktek ini dilarang oleh islam, sebagaimana diabadikan dalam surat al-Nisa’ ayat 19: “ Wahai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kalian mewarisi perempuan secara paksa”.

Salah satu solusi dalam gerak aktivis perempuan agar diterima masyarakat dan budaya Indonesia yaitu dengan Gerakan Perempuan Islam Aswaja, dengan penerapan Tasamuh, Tawazun, Tawassuth dan Al-Adalah yang merupakan materi dasar dalam PMII saat Masa Penerimaan Mahasiswa Baru (MAPABA), penerapan empat Prinsip islam aswaja yang dilakuka, tentunya akan memunculkan reaki besar terhadaap kader-kader perempuna.

Oleh: Badrut Tamam
(Penulis adalah kader PMII Rayon Dakwah Tahun 2013)

0 komentar:

SEMARANG- P eserta sekolah advokasi sedang membersihkan sampah di area Pantai Ngebum. pmiirada , Semarang - Lembaga Advokasi Per...

PMII RADA Terapkan Advokasi Lingkungan di Pantai Ngebum


SEMARANG- Peserta sekolah advokasi sedang membersihkan sampah di area Pantai Ngebum.
pmiirada, Semarang - Lembaga Advokasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Dakwah (RADA) mengadakan sekolah advokasi, Minggu (25/11).

Sekolah advokasi dilaksanakan di daerah Kaliwungu, Pantai Ngebum. Aditya Firmansyah selaku ketua panitia mengatakan bahwa konsep dari advokasi ialah penyadaran, refleksi dan belajar peka terhadap lingkungan. 

Kegiatan membersihkan sampah di pantai Ngebum merupakan salah satu bentuk penerapan advokasi lingkungan. Tujuan kegiatan membersihkan sampai di area pantai selain pembelajaran terhadap anggota PMII RADA yakni untuk menunjukkan kepada masyarakat tentang betapa pentingnya menjaga kebersihan pantai.

“Karena lokasi sekolah advokasi yang dipilih di dekat pantai, maka kami panitia memutuskan untuk menerapkan advokasi lingkungan yaitu membersihkan sampah yang ada di area pantai” tuturnya.

Panitia menghabiskan 10 kantong kresek untuk mengisi sampah-sampah yang berserakan di area pantai.  Peserta yang berjumlah 25 orang dibagi menjadi 5 kelompok. Selain terjun ke lapangan, sebelumnya peserta dibekali materi yakni pengantar atau dasar advokasi dan analisa sosial serta adanya Forum Group Discussion (FGD). Tujuannya agar peserta lebih mengerti dan memahami lebih dalam tentang advokasi.  

“Kesan belajar di sekolah advokasi PMII RADA itu seneng, seru juga apalagi kita ditunjuk untuk langsung terjun ke lapangan dan sebelumnya juga sudah diberi materi dan arahan jadi kita lebih paham dan matang. Saya tunggu kegiatan advokasi yang lainnya.” Kata Afrida, salah satu peserta sekolah advokasi PMII RADA. Cm/25

0 komentar: