PMII RAYON DAKWAH

  Di Rumah Tuhan Karya: Arif Hidayat Hari kemarin aku berada di depan pintu rumah Tuhan. Dalam hati aku mengucapkan "sungguh aku mencin...

Di Rumah Tuhan

 Di Rumah Tuhan

Karya: Arif Hidayat


Hari kemarin aku berada di depan pintu rumah Tuhan. Dalam hati aku mengucapkan "sungguh aku mencintai-Mu." Hari berikutnya sama, dengan perkataan yang berbeda, "Ya Tuhanku, sungguh kasih sayang-Mu melebihi apapun yang kumau." Tuhan mengerti. Hari selasa, aku mau masuk di rumah Tuhan. Tuhan mempersilahkan. 

Di dalam rumah Tuhan aku tanpa kata-kata. Tuhan pun hanya bisa menatap dan menaluku. Apa begini rumah Tuhan! Tak ada aspirasi. Hanya ada tatapan tanpa kata. Hanya ada tatapan tanpa doa. Hanya ada tatapan yang membisu. 

Ohhh Tuhanku. Haruskah aku masuk rumahmu! Jika yang aku temui adalah tanpa kata-kata. Kau menatapku.

2 komentar:

  Marginal School di Desa Karangsari, Mangkang, Semarang Lembaga Advokasi Rayon (LAR) adakan Kegiatan Marginal School  di Desa Karangsari, M...

Advokasi Peduli Bersama Marginal School

 


Marginal School di Desa Karangsari, Mangkang, Semarang


Lembaga Advokasi Rayon (LAR) adakan Kegiatan Marginal School di Desa Karangsari, Mangkang, Semarang. Kamis, (14/1/21).


Acara rutinan pendampingan belajar mengajar untuk anak-anak tingkat dasar yang kurang beruntung. Kegiatan  Marginal School  telah memasuki ke-6 dengan jumlah kehadiran 25anak dan masih berjalan hingga saat ini. Dalam agenda  Marginal School  tersebut anak-anak yang bermukim di desa tersebut tampak antusias menjalani kegiatan yang diselenggarakan Lembaga Advokasi Rayon (LAR) dan pendampingan dibantu oleh sahabat-sahabati dari Pengurus PMII Rayon Dakwah.

Kegiatan  Marginal School  dibagi dengan beberapa kategori untuk memudahkan dalam proses kegiatannya. Mulai dari membaca, menulis, sejarah dan tak ketinggalan pelajaran agama. Sahabat Lutfin Hidayat selaku Koordinator Lembaga Advokasi Rayon (LAR) mengatakan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dan kualitas diri anak-anak binaan tersebut berjalan dengan lancar tanpa ada halangan apapun.

Harapannya anak-anak binaan di Desa Karangsari tak kalah dengan anak-anak pada umumnya dalam semangat meraih prestasi. Aulia salah satu anak binaan mengungkapkan rasa kegembirannya bisa mengikuti kegiatan  Marginal School yang diselenggarakan setiap hari Kamis sore pukul 15:00.
" Saya merasa senang. Karena bisa mendapat ilmu dan banyak teman" ujarnya pasca diwawancarai setelah kegiatan.




Rep.     Lutfi Abdul 
Editor  Ratna

0 komentar:

Terbata bualan menganga  Menciptakan resah disetiap arah Segenggam fatamorgana terngiang di telinga Yang dulu asap beralih cahaya Merobek ma...

Ambigu

Terbata bualan menganga 

Menciptakan resah disetiap arah

Segenggam fatamorgana terngiang di telinga

Yang dulu asap beralih cahaya

Merobek masa, merubah segalanya

Jempol beraksi semua terintimidasi

Merasa benar pada diri sendiri

Melupakan martabat yang nyaris mati

Ah!

Aku rindu suasana yang dulu

Bercanda tanpa batas mata

Berdiskusi tanpa menipu diri

Zaman merampas segalanya

Tinggal yang benar hanya sepi

Menjadikan yang iya menjadi tidak

Yang tidak menjadi iya


Jepara, 6 Januari 2021

0 komentar:

Dokumentasi: Historia.Id Rohana Kudus lahir di Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, 20 Desember 1884. Memiliki darah keturunan seoran...

Pejuang Perempuan, Yang Karyanya Hidup Sepanjang Masa


Dokumentasi: Historia.Id


Rohana Kudus lahir di Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, 20 Desember 1884. Memiliki darah keturunan seorang Jurnalis dan penyair. Sejak kecil kegemarannya akan buku sudah sangatlah terbentuk. Sampai-sampai ayahnya berlangganan surat kabar atau buku-buku majalah untuk ia baca. Dilahirkan ditengah keluarga yang mengalir deras darah penulis dan juga penyair, membuatnya terbiasa dengan banyak buku bacaan. Jenis apapun dilahapnya. Memang benar pepatah mengatakan, “buah jatuh tak jauh dari pohonnya”, berasal dari keluarga yang memiliki jiwa seorang penulis dan penyair menjadikannya serta tokoh-tokoh hebat lahir. Sebut saja Sutan Syahrir, seorang perdana menteri RI pertama, dan juga Choiril Anwar yang merupakan penyair yang karyanya tak diragukan lagi. 

Ia bak bunga yang harum akan jasa dan perjuangannya. Merupakan salah satu tokoh emansipasi wanita, yang juga hidup satu masa dengan Ibu Kartini, Sang Puteri Indonesia yang harum bak bunga mawar yang indah. 

Ia hidup di masa seorang wanita tidak mendapat kebebasan untuk menuntut ilmu atau mengenyam pendidikan di sekolah formal, tetapi sosok yang satu ini merupakan wanita cerdas yang memiliki semangat tingi, tingkat intelegensi, ketegasan dan kegigihannya berjuang untuk perempuan sampai-sampai diakui oleh dunia internasional di zaman kolonial Belanda. Sosok yang juga gigih, berwawasan, dan kaya akan ide-ide cemerlang untuk mewujudkan cita-citanya untuk kaum perempuan. Soenting Melajoe adalah salah satu media yang Ia gunakan untuk mengisi ruang perempuan untuk melakukan sebuah gerakan dengan nama perempuan bergerak. Didirikan bersama Mahyuddin Datuk Sutan Maharaja. Ia juga dinobatkan sebagai Jurnalis Perempuan pertama di Indonesia. 

Selain itu juga, ia termasuk salah satu pendiri sekolah untuk perempuan. Yang mana pada masanya kala itu, perempuan dituntut untuk selalu didapur, karena representasi dari seseorang yang memiliki anak perempuan adalah nantinya akan kembaali ke dapur dan untuk apa membuang-buang waktu, uang dan tenaga untuk menyekolahkan anak perempuan. Kurang lebih seperti itu anggapan yang ada kala itu. Tetapi, tidak untuk sosok yang satu ini. Ya, dialah Rohanna Kudus. 

Lahir dari pasangan Mohamad Rasjad Maharadja dan Kiam. Ayahnya, Rasjad bekerja untuk pemerintah kolonial di kantor kejaksaan. Sosok ayahnya yang berpendidikan inilah yang menjadi modal bagi Rohana sejak kecil untuk tumbuh menjadi perempuan yang cerdas. Perempuan berdarah minang ini sudah sedari dini ditanamkan pengetahuan dengan membaca oleh ayahandanya yang juga seorang jurnalis dan Jaksa pada masanya dan juga terlahir dari keluarga yang mengalir deras bakat penulis dan penyair. Hal tersebutlah yang membentuk Rohanna sejak kecil untuk memiliki keinginan kuat untuk dapat setara dengan kaum laki-laki dalam hal mendapatkan pendidikan yang baik. 

Di zaman itu, pendidikan menjadi suatu hal yang mahal. Apalagi untuk anak perempuan. Tapi Rasjad tak mau Rohana lahir dan tumbuh sebagai perempuan bodoh. Sejak balita, Rasjad mengajarkan Rohana membaca huruf latin dan Arab. Dimana ia selalu memberikan bahan-bahan bacaan kepada Rohana. Ketika baru berusia tujuh tahun, Rohana sudah menjadi pusat perhatian bagi teman-teman bermainnya karena ia pandai membacakan cerita.

Setelah tumbuh dewasa, ia berkiprah dalam dunia Jurnalis, karena bakat menulis yang telah ada, menjadikannya mendirikan Soenting Melajoe dan hal ini dilakukan untuk menyuarakan suara wanita, dan juga sebagai simbol atas hak merdeka bagi wanita yang selalu dianggap remeh dan tak berpendidikan. 

Roehana miris melihat perempuan di Minangkabau di zaman itu tidak boleh bebas keluar rumah seperti kaum laki-laki. Perempuan yang masih gadis hanya diizinkan belajar untuk urusan keperempuanan seperti memasak, menjahit, dan berdandan. Nantinya nasib mereka akan ditentukan oleh ninik mamak untuk dijodohkan dengan orang-orang di Koto Gadang.

Jadilah perempuan Koto Gadang yang dikenal berparas cantik, tapi identik dengan kebodohan. Perempuan di daerah itu dulu hanya jadi pemuas nafsu laki-laki terpandang dan pejabat-pejabat Belanda. Bagi kaum perempuan yang dari kalangan menengah ke bawah lebih miris.Perempuan yang tak dilirik orang terpandang dan pejabat Belanda harus turut turun ke sawah dan ladang menjadi buruh kasar dengan upah yang rendah. Awalnya Rohana memperjuangkan kaum perempuan dengan mengajarkan keterampilan menjahit dan menenun disamping mengajarkan baca tulis dan ilmu pengetahuan lainnya. Rohana mewadahi perempuan Koto Gadang  di Sekolah Kerajinan Amai Setia (KAS) yang ia dirikan atas dukungan suaminya, Abdul Kuddus.

Baginya wanita haruslah cerdas, karena bagaiamana akan melahirkan generasi yang cerdas, jika induknya saja tidak cerdas. Untuk engkau Sang Pahlawan, terimakasih atas jasa-jasamu. Karena kini banyak generasi cerdas yang lahir dari Rahim wanita-wanita cerdas layaknya dirimu. 

Karya: Ulfah


0 komentar: