PMII RAYON DAKWAH

https://images.app.goo.gl/d3uMoeriTa2E4oez6 Manusia Ulul Albab merupakan salah satu figure dan kriteria manusia yang patut dijadikan Teladan...

Menjadi Manusia Ulul Albab

https://images.app.goo.gl/d3uMoeriTa2E4oez6

Manusia Ulul Albab merupakan salah satu figure dan kriteria manusia yang patut dijadikan Teladan bagi manusia lain. Manusia Ulul Albab terdiri dari dua suku kata yaitu, Ulu dan Albab. Kata Ulu dalam bahasa arab berarti dzu yaitu memiliki, Sedangkan kata Albab  berasal dari kata allubb yang artinya otak atau pikiran, arti albab disini bukan mengandung arti otak atau pikiran beberapa orang, melainkan hanya dimiliki oleh seseorang. Dengan demikian ulul albab artinya orang yang memiliki otak yang berlapis-lapis.

Pengertian Ulul Albab Mengutip dari AD/ART PMII  “Pribadi ulul albab adalah seseorang yang selalu haus akan ilmu, dengan senantiasa berdzikir kepada Allah SWT, berkesadaran historis primordial atas relasi Tuhan-manusia alam, berjiwa optimis transendental sebagai kemampuan untuk mengatasi masalah kehidupan, berpikir dialektis, bersikap kritis dan bertindak transformatif”.

Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa ulul abab adalah soerang yang memiliki wawasan luas dan ketajaman dalam menganalisis suatu permasalahan, tidak menutup diri dan selalu menerima masukan dari orang lain, dengan kecerdasan dan pengetahuan yang luas mereka tidak melalaikan Tuhannya, dan bahkan manusia ulul albab menggunakan kelebihan yang dimiliki untuk selalu mendekatkan diri Kepada Allah SWT dengan cara Mengingat (Dzikir), memikirkan (fikir) dan selalu berbuat baik kepada sesamanya (amal Shaleh).

Sebagai manusia ulul albab dalam pergerakan mahasiswa islam indonesia (PMII) selayaknya kita selalu memperbaiki diri agar menjadi insan yang bertaqwa kepada allah swt, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggungjawab mengamalkan ilmunya serta komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan indonesia. Selalu memperbaiki diri adalah kewajiban semua kader PMII agar apa yang menjadi tujuan dari PMII bisa tercapai secara nyata. 

Bagaimana sih ciri-ciri orang yang termasuk dalam kelompok ulul albab ? Ciri-ciri ulul albab menyangkut beberapa aspek kehidupan, baik ritual, sosial, emosional maupun intelektual. Ciri-ciri tersebut antara lain :

1. Bersungguh-sungguh menggali ilmu pengetahuan. 

2. Selalu berpegang pada kebaikan dan keadilan. 

3. Kritis dalam mendengarkan pembicaraan, pandai menimbangnimbang ucapan, teori, proposisi atau dalil yang dikemukakan oleh orang lain. 

4. Bersedia menyampaikan ilmunya kepada orang lain untuk memperbaiki masyarakatnya; memperingatkan mereka kalau terjadi ketimpangan, dan diprotesnya kalau terdapat ketidakadilan.

5. Sanggup mengambil pelajaran dari sejarah umat terdahulu.

6. Rajin bangun malam untuk sujud dan rukuk di hadapan Allah SWT.

7. Tidak takut kepada siapapun, kecuali Allah semata.

8. Mampu memahami substansi dari suatu permasalahan secara mendalam.

9. Memiliki kejernihan pikiran dan kelembutan hati untuk bertaqwa kepada Allah SWT.

Sungguh beruntunglah apabila manusia bisa memposisikan dirinya sebagai Manusia Ulul Albab. Semoga kita semua bisa menjadi pribadi yang Ulul Albab. Aaamiinn


Penulis : Sahabat Usman Efendi 

0 komentar:

Sc : NU Online Salah satu kebiasaan para ulama adalah tirakat dan  riyadhah . Kata tirakat adalah penjawaan dari kata Arab, thariqah  yang b...

Tirakat dan Riyadhah

Sc : NU Online

Salah satu kebiasaan para ulama adalah tirakat dan riyadhah. Kata tirakat adalah penjawaan dari kata Arab, thariqah yang bermakna “jalan yang dilalui”. Bahasa Indonesia kemudian menyerap kata ini menjadi tirakat dan tirakatan. Tirakat berarti menjalani laku spiritual untuk mencapai sesuatu yang diiinginkan. Disebut pula oleh kalangan pesantren dengan riyadhah, yaitu menjalani laku mengendalikan dan mengekang hawa nafsu. 

Kata riyâdhah diambil dari kata ar-Riyâdhu, ar-Raudhu yang semakna dengan kata atTamrin yang mengandung makna latihan atau melatih diri. Menurut istilah adalah latihan penyempurnaan diri secara terus menerus melalui zikir dan pendekatan diri kepada Allah SWT. Dalam Menjalani tirakat diyakini akan mampu menjadikan kualitas spiritual semakin dekat dengan Allah dan hajat bisa dikabulkan, bila dilakukan dengan benar dan diselesaikan secara purna. 

Riyadhah adalah upaya yang sungguh-sungguh untuk menuju Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya. Bentuknya bisa berupa wiridan secara rutin dan lainya. Ada manfaat lain selain dekat kepada Allah, yaitu munculnya aura dan kharisma dari kita.

Dalam masyarakat pesantren, tirakat menggabungkan pengekangan dan pengendalian hawa nafsu (riyadhah)  dan  penempuhan jalan tertentu (thoriqat) untuk mencapai yang diinginkn.  

Riyadhah adalah bagian dari tradisi pesantren yang masih dilestarikan sampai sekarang, tradisi riyadhah sudah dicontohkan atau dipraktekkan oleh Nabi, Sahabat, Tabi’in hingga para Raja dan Kyai di Nusantara meskipun secara implisi atau tersirat. Tradisi riyadhah merupakan bagian dari proses pembersihan diri (tazkiyyatun nafs) dan penyerahan diri secara total bahwa manusia tidak mempunyai kekuatan selain kekuatan dari Allah SWT.

Karena itulah, tidak jarang orang tua di kalangan masyarakat kita menjalani tirakat agar anaknya dikaruniai ilmu yang bermanfaat, menjadi 'arifin, dan lain-lain. (Sumber: Ensiklopedi NU)


Penulis : Sahabat Moch. Supriadi 

0 komentar:

https://www.google.com/imgres?imgurl=https%3A%2F%2Fklikhijau.com%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F10%2FIlustrasi.jpg&imgrefurl=https%3A%2...

Tanah Duka

https://www.google.com/imgres?imgurl=https%3A%2F%2Fklikhijau.com%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F10%2FIlustrasi.jpg&imgrefurl=https%3A%2F%2Fklikhijau.com%2Fread%2Ftanah-duka-tanah-luka%2F&tbnid=yjhiB2t5IkjgDM&vet=1&docid=d85fnlbnujjFjM&w=650&h=366&source=sh%2Fx%2Fim

Hari ini rasanya aneh-aneh 

Slogan dikumandangkan 

Flampet dicetak rapi

Dan undang-undang diumpatkan 

di kolong jembatan tua, kian tuan, ambruk. 


Orang-orang berbondong-bondong

Menjarah nafkah di tanah mardika ini


Siapa tuan! 

Aku lihat kau baru saja mencuri harga diri negara ini. 


Aku tak mencuri! 

Sejak dulu negara ini adalah budak segala bangsa dan bangsanya sendiri, itu kata Pram. 


Sedangkan aku! 

Aku seuntai manusia ling-lung, yang dijejali kemajuan-kemajuan yang menghancurkan. 


Di negara ini 

perempuanku diperkosa

ibunya berduka, dan famplet-flampet mencari ketenarannya. 


Saban hari-harinya

Tanahku selalu berduka, 

air matanya menduka

Tiada henti penuh arti.


Arif Hidayat, Kota Semarang, 12 Desember 2021.

0 komentar:

Sc : Kompas.com Kepemimpinan Islam adalah kepemimpinan yang berdasarkan hukum Allah. Oleh karena itu, pemimpin haruslah orang yang paling ta...

Kepemimpinan dalam Islam

Sc : Kompas.com

Kepemimpinan Islam adalah kepemimpinan yang berdasarkan hukum Allah. Oleh karena itu, pemimpin haruslah orang yang paling tahu tentang hukum Ilahi. Setelah para imam atau khalifah tiada, kepemimpinan harus dipegang oleh para faqih yang memenuhi syarat-syarat syariat. Bila tak seorang pun faqih yang memenuhi syarat, harus dibentuk ‘majelis fukaha’.”

Sesungguhnya, dalam Islam, figur pemimpin ideal yang menjadi contoh dan suritauladan yang baik, bahkan menjadi rahmat bagi manusia (rahmatan linnas) dan rahmat bagi alam (rahmatan lil’alamin) adalah Muhammad Rasulullah Saw., sebagaimana dalam firman-Nya :

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS.

al-Ahzab [33]: 21).

Sebenarnya, setiap manusia adalah pemimpin, minimal pemimpin terhadap seluruh metafisik dirinya. Dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas segala kepemimpinannya. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam sabda Rasulullah Saw., yang maknanya sebagai berikut :

“Ingatlah! Setiap kamu adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban tentang kepemimpinannya, seorang suami adalah pemimpin keluarganya dan ia akan dimintai pertanggung jawaban tentang kepemimpinannya, wanita adalah pemimpin bagi kehidupan rumah tangga suami dan anak-anaknya, dan ia akan dimintai pertanggung jawaban tentang kepemimpinannya. Ingatlah! Bahwa kalian adalah sebagai pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban

tentang kepemimpinannya,” (Al-Hadits).

Kemudian, dalam Islam seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memiliki sekurang-kurangnya 4 (empat) sifat dalam menjalankan kepemimpinannya, yakni : Siddiq, Tabligh, Amanah dan Fathanah (STAF):

(1) Siddiq (jujur) sehingga ia dapat dipercaya;

(2) Tabligh (penyampai) atau kemampuan berkomunikasi dan bernegosiasi;

(3) Amanah (bertanggung jawab) dalam menjalankan tugasnya;

(4) Fathanah (cerdas) dalam membuat perencanaan, visi, misi, strategi dan mengimplementasikannya.

Selain itu, juga dikenal ciri pemimpin Islam dimana Nabi Saw pernah bersabda: “Pemimpin suatu kelompok adalah pelayan kelompok tersebut.” Oleh sebab itu, pemimpin hendaklah ia melayani dan bukan dilayani, serta menolong orang lain untuk maju.

Dr. Hisham Yahya Altalib (1991 : 55), mengatakan ada beberapa ciri penting yang menggambarkan kepemimpinan Islam yaitu :

Pertama, Setia kepada Allah. Pemimpin dan orang yang dipimpin terikat dengan kesetiaan kepada Allah;

Kedua, Tujuan Islam secara menyeluruh. Pemimpin melihat tujuan organisasi bukan saja berdasarkan kepentingan kelompok, tetapi juga dalam ruang lingkup kepentingan Islam yang lebih luas;

Ketiga, Berpegang pada syariat dan akhlak Islam. Pemimpin terikat dengan peraturan Islam, dan boleh menjadi pemimpin selama ia berpegang teguh pada perintah syariah.

Dalam mengendalikan urusannya ia harus patuh kepada adab-adab Islam, khususnya ketika berurusan dengan golongan oposisi atau orang-orang yang tak sepaham;

Keempat, Pengemban amanat. Pemimpin menerima kekuasaan sebagai amanah dari Allah Swt., yang disertai oleh tanggung jawab yang besar. Al-Quran memerintahkan pemimpin melaksanakan tugasnya untuk Allah dan menunjukkan sikap yang baik kepada pengikut atau bawahannya.

Dalam Al-Quran Allah Swt berfirman :

“(yaitu) orang-orang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (QS. al-Hajj [22]:41).


Hal lain yang perlu diperhatikan adalah adanya prinsip-prinsip

dasar dalam kepemimpinan Islam yakni : Musyawarah; Keadilan; dan Kebebasan berfikir.

Secara ringkas penulis ingin mengemukakan bahwasanya pemimpin Islam bukanlah kepemimpinan tirani dan tanpa koordinasi. Tetapi ia mendasari dirinya dengan prinsip-prinsip Islam. Bermusyawarah dengan sahabat-sahabatnya secara obyektif dan dengan penuh rasa hormat, membuat keputusan seadil-adilnya, dan berjuang menciptakan kebebasan berfikir, pertukaran gagasan yang sehat dan bebas, saling kritik dan saling menasihati satu sama lain sedemikian rupa, sehingga para pengikut atau bawahan merasa senang mendiskusikan persoalan yang menjadi kepentingan dan tujuan bersama. Pemimpin Islam bertanggung jawab bukan hanya kepada pengikut atau bawahannya semata, tetapi yang jauh lebih penting adalah tanggung jawabnya kepada Allah Swt. selaku pengemban amanah kepemimpinan. Kemudian perlu dipahami bahwa seorang muslim diminta memberikan nasihat bila diperlukan, sebagaimana Hadits Nabi dari :Tamim bin Aws

meriwayatkan bahwasanya Rasulullah Saw. pernah bersabda:

“Agama adalah nasihat.” Kami berkata: “Kepada siapa?”

Beliau menjawab: “Kepada Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, Pemimpin umat Islam dan kepada masyarakat kamu.”

Nah, kepada para pemimpin, mulai dari skala yang lebih kecil, sampai pada tingkat mondial, penulis hanya ingin mengingatkan, semoga tulisan ini bisa dipahami, dijadikan nasihat dan sekaligus dapat dilaksanakan dengan baik. Insya Allah. Amiin !

Itu saja. Dan terima kasih.

0 komentar:

Setapak manusia hidup anak-anak yang menangis ada yang bahagia, ada pula yang duka.  Gumpalan emosi  karena takdir enggan menyenja.  Ada kal...

Trotoar

Setapak manusia hidup

anak-anak yang menangis

ada yang bahagia, ada pula yang duka. 


Gumpalan emosi 

karena takdir enggan menyenja. 

Ada kalanya, embun dini menjelma rindu. 

Ketika lirik Ismail berkumandang 

"disana tanah air beta. Tempat berlindung sampaihari-hari menua." 


Kini, lirik itu poranda. 

Di hantam kepentingan tak ujung. 

Hanya di sepanjang jalan ini, jalan trotoar, 

ketemukan orang tua yang sia-sia hidupnya. 

Ada yang mengemis

ada yang tergusur

terhunus dan terdampar. 


Hingga sisa-sisa nafasnya berucap, 

"jaga tanah airmu nak. 

Jaga ibumu. 

Jaga jasad-jasad keluargamu. 

Tanah inilah segala hidup mereka." 

Kenanglah aku dalam doa.


Kota Semarang, 23 November 2021.

Arif Hidayat.

0 komentar:

Sc : Tirto.id Dalam ajaran Islam puasa merupakan salah satu bagian ibadah sunnah yang dilakukan oleh umat Islam untuk mendapatkan cinta atau...

Pentingnya Puasa Sunnah

Sc : Tirto.id

Dalam ajaran Islam puasa merupakan salah satu bagian ibadah sunnah yang dilakukan oleh umat Islam untuk mendapatkan cinta atau kasih sayang Allah SWT.  Dalam melaksanakan puasa sunnah seseorang mendapatkan beberapa keuntungan yaitu keuntungan untuk menjadi orang-orang yang disayangi Allah serta mendapatkan pundi-pundi pahala, dan juga dengan puasa sunnah seseorang bisa sehat dan kuat.

Seperti yang di jelaskan dalam hadis qudsi

"Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatan yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangan yang ia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kaki yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya." (HR Bukhari). 

Salah satu puasa sunnah yang dikenal dalam ajaran islam yaitu puasa Senin Kamis. Dalam menjalankan puasa sunnah seperti puasa Senin Kamis  harus memasang niat untuk mendapatkan kasih sayang Allah dan puasa sunnah yang dilakukannya juga atas dasar cinta kepada Allah. Orang yang melaksanakan atau menjalankan puasanya sunnah atas dasar kehendak diri mereka sendiri jika ingin berpuasa maka tidak boleh dibatalkan walaupun tanpa halangan.

Puasa sunnah terasa lebih berat daripada puasa wajib. Sebab dalam pelaksanaan puasa sunnah, kita sering kali merasa "terpaksa". Apalagi puasa sunnah yang kategorinya sebagai puasa "ikut", seperti puasa Tarwiyah dan Arafah. Disebut sebagai puasa "ikut", karena kita berpuasa Tarwiyah dan Arafah, berdasarkan pelaksanaan haji bagi orang Islam yang sedang berhaji. Ada juga puasa sunnah yang terasa seperti puasa wajib, sehingga pengamal merasa sebagai puasa wajib, merasa "terpaksa" harus menjalankannya. Puasa sunnah semacam ini, biasanya dilatarbelakangi keinginan tertertu, misalnya sebagai persyaratan ritual keilmuan tertentu.

Namun apapun bentuk puasa, wajib ataupun sunnah, seperti puasa tarwiyah dan arafah, semuanya akan dapat dijalankan. Puasa wajib ataupun sunnah dapat dilaksanakan oleh siapa saja atau semua orang. 

Ada dua syarat utama yang harus dipenuhi agar kita bisa dan mampu berpuasa. Yaitu: Pertama, adanya kemauan dan niat. Kedua, bersahur diawal waktu.

Puasa termasuk amalan yang mempunyai keistimewaan tersendiri. Begitupun kedudukannya sebagai amalan yang mustajab, yang merupakan amalan yang sangat disenangi oleh para wali Allah setelah amalan-amalan wajib sebagai perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.

Oleh : Sahabat M. Alfin Huda

0 komentar: