PMII RAYON DAKWAH

  Khadijah Tauladan Muslimah  Karya: Aldhania Uwasatun Hasanah Berbicara tentang wanita, begitu banyak sosok wanita yang menginspirasi saya,...

Khadijah Tauladan Muslimah

 Khadijah Tauladan Muslimah 

Karya: Aldhania Uwasatun Hasanah



Berbicara tentang wanita, begitu banyak sosok wanita yang menginspirasi saya, entah itu dengan ke-sholehannya, kecerdasannya, kegigihannya dan baebagai hal-hal lain yang mengagumkan, namun sosok wanita seringkali di pandang sebelah mata, tidak sedikit orang di muka Bumi menganggap bahwa wanita asalnya adalah dapur dan akan kembali ke dapur, tidak ada kepantasan bagi seorang wanita untuk meniti karir atau berpendidikan, begitu konon katanya. Namun pernyata’an ini bukanlah sebuah tolak ukur yang satusatunya di jadikan landasan alih alih melemahkan hakrat wanita. tidak ada keterbatasan terhadap wanita untuk sukses dan memiliki kesetara’an dengan laki-laki. Pada dasarnya siapapun berhak menentukan bagaimana jalan hidupnya. 

Islam lahir sebagai sebuah agama yang berada di tengah-tengah kultural masyarakat arab yang penuh dengan problematika sosial. Diskriminasi dan kriminalitas menjadi hal yang lumrah dan biasa. Mulai dari diskriminasi terhadap wanita, fakir miskin dan berbagai macam kriminalitas yang bebas meraja lela. Wanita menjadi insan yang di nomor duakan, di anggap lemah dan tidak lebih mampu di banding seorang laki-laki. Kemudian lahirlah islam sebagai solusi untuk melawan realitas pemikiran yang sangat amat berlawanan dengan eksistensi kemanusia'an. Dalam islam wanita di kenal dengan makhluk mulia dan tinggi derajatnya, saya mengenal bahwa “syurga ada di telapak kaki ibu”, tidak hanya itu, wanita juga menjadi salah satu surah yang terdapat dalam AL-Qur'an yaitu surrah an-nisa (perempuan). Bahkan dalam sebuah hadits rasulullah saw, beliau menegaskan bahwa seorang ibu memiliki derajat tiga kali lebih tinggi di banding seorang ayah. Islam menyatakan bahwa wanita tidak lebih rendah dari siapapun, namun seorang wanita adalah insan yang di muliakan oleh islam. 

Perkembangan islam tidak lepas dari perjuangan dan kegigihan orang-orang mulia yang berjiwa besar. Dan di antaranya juga sosok wanita-wanita tangguh yang berperan penting dalam perjuangan perkembangan islam yang sa'at itu memiliki banyak penolakan. Saya tidak akan menceritakan seorang wanita yang berjuang tenaga untuk harta dunia, melainkan saya akan seorang wanita mulia yang kemulia'annya tidak pernah lekang oleh masa, yang mengorbankan seluruh hartanya demi menolong agamanya, sehingga ia memiliki peran penting dalam perkembangan islam. Khadijah binti khuwailid ra adalah janda kaya raya yang memilih menikah dengan seorang pemuda sederhana yang jauh 15 tahun umurnya di bawah beliau, dialah Muhammad bin abdollah. Siapa yang tidak kenal dengan Khadijah? Seorang pebisnis ulung yang di beri gelar ratu mekah karena kekayaánnya yang melimpah ruah, ia lahir di mekah pada tahun 68 sebelum hijriah, ia merupakan wanita terpandang di Zaman itu. 

Ketika Rasulullah saw di angkat oleh Allah sebagai seorang nabi, Khadijah menjadi manusia pertama yang memeluk agama islam dan mendukung penuh ajaran islam, Ia adalah sosok yang selalu siap berada di samping Nabi baik suka maupun duka, terlebih lagi di awal-awal penyebaran islam itu Nabi tidak pernah berhenti mendapat ancaman dari berbagai pihak. Namun Khadijah ra menjadi support system bagi suaminya Nabi Muhammad untuk menyebarkan agama islam. Ialah Sosok mandiri dan tidak pernah menuntut apapun kepada Nabi. 

Suatu malam yang panjang, ketika usai menerima Wahyu dari Malaikat jibril di gua hira Tubuh Nabi bergetar hebat hingga mengalami demam, karena sebelumnya beliau belum pernah mengalami kejadiau luarbiasa itu. Dengan langkah tertatih dan tenaga yang terkuras habis, nabi berjalan menyusuri kegelapan fajar menuju Rumahnya. Sesampai di rumahnya, beliau memanggil Khadijah, dengan tubuh menggigil dan lemah seraya berkata, “selimutilah aku, selimutilah aku”, Melihat keadaan Rasul yang sangat mengagetkan dan mengkhawatirkan, Khadijah ra. segera mendekap Rasulullah dengan lembut dan berusaha menenangkan hati suami yang ditaatinya. Beliau berjuang sekuat tenaga mengumpulkan mozaik-mozaik ketenangan yang sempat terpecah ketika Rasulullah datang dalam keadaan seperti itu. Setelah tenang, Rasulullah menceritakan kepada Khadijah. apa yang telah dialaminya. Rasulullah mengutarakan kekhawatirannya bahwa apa yang terjadi padanya adalah semacam ilusi yang biasa dialami oleh para penyihir atau tanda-tanda awal dari kegilaan.

Khadijah dengan lembut berkata kepada Rasulullah, “Wahai suamiku, demi Allah, Tuhan tidak akan mengecewakanmu karena sesungguhnya engkau adalah orang yang selalu memupuk dan menjaga kekeluargaan serta sanggup memikul tanggug jawab. Dirimu dikenal sebagai penolong kaum yang sengsara, sebagai tuan rumah yang menyenangkan tamu, ringan tangan dalam memberi pertolongan, selalu berbicara benar dan setia kepada amanah. Bergembiralah dan tentramkanlah hatimu. Demi Allah swt. yang menguasai diri Khadijah ra., engkau ini benar-benar akan menjadi Nabi utusan Allah bagi umat kita.” Sehingga sangat pantaslah beliau ini menyandang gelar Umahatul Mukminin, sebagai contoh figur tauladan bagi seluruh istri yang pernah, sedang dan akan ada, 

Khadijah adalah sosok yang setia menemani dakwah Rasulullah dalam keádaán apapun kemudian sampai pada titik benar-benar mengorbankan seluruh hartanya untuk agama Allah,  sehingga semasa hidupnya beliau adalah satu-satunya istri rasulullah yang tidak pernah di madu. beliau begitu sabar dan ikhlas menjalani hidupnya sebagai istri seorang Rasul yang kembali sederhana, jauh dari gemerlap harta yang dahulu di genggamnya. kekayaánnya telah habis, seringkali tidak ada makanan untuk di makan. Sampai-sampai ketika Fatimah masih dalam buaian dan menyusui, bukan asi yang keluar akan tetapi darahlah yang masuk ke dalam mulut Fatimah ra. 

Di kisahkan pada suatu ketika, Rasulullah pulang dari berdakwah yang menghadapi segala bentuk caci maki serta fitnah manusia, beliau-pun berbaring di pangkuan Khadijah, dan ia tertidur, ketika itu Khadijah membelai lembut kepala Rasulullah dengan penuh  kasih sayang. Dan tak menyadarinya, air mata Khadijah jatuh membasahi pipi Rasulullah. Rasulullah pun terjaga dari tidurnya seraya berkata lembut kepada Khadijah. "Wahai Khadijah, Mengapa engkau menangis? Adakah engkau menyesal bersuamikan aku, Muhammad?. Dahulu engkau wanita bangsawan, engkau mulia, engkau hartawan. Namun hari ini engkau telah dihina orang. Semua orang telah menjauhi dirimu. Seluruh kekayaanmu habis. Adakah   engkau menyesal wahai Khadijah bersuamikan aku, Muhammad?" Rasulullah tak kuasa melihat istrinya menangis. 

Kemudan Khadijah menjawab "Wahai suamiku. Wahai Nabi Allah. Bukan itu yang kutangiskan.. dahulu aku memiliki kemuliaan. Kemuliaan itu telah aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya. dahulu aku adalah bangsawan. Kebangsawanan itu juga aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya. dahulu aku memiliki harta kekayaan. Seluruh kekayaan itupun telah aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya.”

"Wahai Rasulullah. Sekarang aku tak punya apa-apa lagi. Tetapi engkau masih terus memperjuangkan agama ini. Wahai Rasulullah. Sekiranya nanti aku mati sedangkan perjuanganmu ini belum selesai, sekiranya engkau hendak menyebrangi sebuah lautan, sekiranya engkau hendak menyebarangi sungai namun engkau tidak memperoleh rakit pun atau pun jembatan. Maka galilah lubang kuburku, ambilah tulang belulangku. Jadikanlah sebagai jembatan untuk engkau menyebrangi sungai itu supaya engkau bisa berjumpa dengan manusia dan melanjutkan dakwahmu. Ingatkan mereka tentang kebesaran Allah. Ingatkan mereka kepada yang hak. Ajak mereka kepada Islam, wahai Rasulullah.”

Khadijah benar-benar menjadi perisai pada awal perjuangan penyebaran agama islam, ia mengorbankan segalanya untuk Allah dan Rasulullah, hingga sampai pada akhir hayatnya, beliau meninggal hanya berbekal selembar sorban dari Rasulullah saw. Perjalanan hidunya, Khadijah bisa kita jadikan tauladan untuk wanita masa kini bahwa bermanfa’at untuk kebaikan maslahat lebih baik jika di banding dengan hura-hura memeras keringat orangtua untuk hal-hal yang tidak ada gunanya. Untuk mendapat kemulia’an kita harus menjadi manusia yang memiliki empati yang tinggi kepada sesama, royal dalam kebaikan, serta ikhlas dalam perjuangan. sebagai seorang wanita saya sangat berharap bahwa kita mampu mematahkan opini sebagian orang yang mengatakan kita lemah dan tidak lebih mampu, ini salah! Bahwa setiap wanita berhak menempatkan dirinya pada posisi yang setara, sebagai seseorang yang unggul, serta mampu memberi perubahan pada setiap bidang yang di tekuninya.

0 komentar: