PMII RAYON DAKWAH

  Nikmat Mana yang Kau Dustakan? Karya: Ratna Sore ini, sang senja masih berwarna kemerahan. Namun, ada pembeda dari hari sebelumnya. Termen...

 Nikmat Mana yang Kau Dustakan?

Karya: Ratna


Sore ini, sang senja masih berwarna kemerahan. Namun, ada pembeda dari hari sebelumnya. Termenung menatap langit yang dirindukan dengan berbagai tanda tanya. Mengeluh? Sering. Merasa paling mengenaskan? Sering. Merasa tumbuh dalam ketidakadilan semesta? Bibir ini menyunggingkan senyum kemirisan. Apa kedua tangan yang diciptakan dengan sangat sempurna masih belum cukup untuk melontarkan,”Alhamdulillah.” 

Kenyataanya tidak. Semua yang belum menjadi milik kita akan menjadi hasrat yang amat menggairahkan. Rumput tetangga Nampak jauh lebih hijau? Begitulah manusia. Sudah diberi Jantung minta Ampela. Sudah dikasih Ampela minta Ginjal. Jika bisa mendapatkan dua, kenapa harus satu? Jika bisa mencapai tiga, kenapa berhenti di angka dua?

Hidup dengan keserakahan, berjalan dengan ketamakan seolah ambisi seorang manusia dalam proses menikmati kehidupan semesta. Setiap hari apa yang dicapainya terasa tidak pernah cukup sama sekali. Kenyang dengan satu piring nasi, masih meminta dua porsi lagi. Bahkan untuk manusia serakah, dunia seisinya pun tidak pernah puas. 

Pernah pertama kali mendapatkan gaji sekecil apapun mengucapkan kalimat keberkahan,”Alhamdulillah, terimakasih untuk rizki yang kau berikan pada hari ini Ya Allah.” Permintaan yang besar jika tidak dipenuhi akan menyesakkan batin. Bukankah begitu? Marah? Pasti. Sakit? Tentu. Atau mengira bahwa semua ini tidak adil? Mungkin. 

Pernahkah kita bertafakkur? Coba lihat ketika kita sedang melakukan olahraga pagi misalnya. Dipersimpang jalan ada pria yang sudah tua renta, bukannya mengobati lelahnya. Mereka masih harus menjaga semua kendaraaan yang sedang terparkir di depan toko, swalayan, pasar, kantor, dan sejenisnya. Ada juga wanita paruh baya yang sedang menyapu Lorong-lorong jalan raya dengan sesekali mengusap keringat dipelipisnya. Siang tadi, kisah ini menampar hati yang mulai mengeras. Membawa beban dagangan dengan pikulan, kedua sisinya ada beraneka makanan yang harus dijajakan. Sedangkan tubuhnya mulai melemah, matanya yang mulai rabun, langkahnya yang nampak gemetar, suaranya yang sangat lirih, dan telinganya sudah tidak seperti usia dua puluhan, pendengarnya sedikit bermasalah. 

Akankah kita akan mengatakan kembali bait-bait kekufuran pada Tuhan? Atau hati ini masih mengeras seperti batu? Banyak diluar sana yang hidup dengan airmata. Banyak sekali yang harus menyusuri fajar hingga rembulan datang hanya cukup untuk makan sesuap nasi. Mungkin, yang paling mengenaskan berhari-hari merasakan nyeri di perutnya karena lapar. 

Mau sampai kapan ketamakan ini dipelihara? Kita masih memiliki anggota tubuh yang lengkap dan sempurna untuk berusaha. Ditambah lagi, kita masih muda, kuat secara fisik untuk berjuang lagi. Saking baiknya Tuhan pada kita, setiap hari kita masih bisa menikmati secangkir kopi dipagi hari, makanan hangat yang sudah tersedia dimeja makan sampai uang yang masih cukup untuk kebutuhan esok pagi. Setidaknya, hal itu sudah cukup bukan? Betapa Tuhan sudah sudi memberikan banyak kebaikan untuk pendosa seperti kita. 

Ingatkah Tuhan pernah memberitahu satu hal, “Jika kamu bersyukur kepada-Ku maka akan Kutambah nikmatmu. Jika kamu kufur kepada-Ku maka sungguh azab-Ku sangat pedih.” Tuhan sudah menjamin kehidupan orang-orang yang senantiasa bersyukur kepada-Nya. Jadi, yuk mulai hari ini kita mulai lembaran baru dengan rasa syukur setiap hari. Tetaplah bersyukur. Semoga dengan kita menjadi manusia yang selalu bersyukur, kita termasuk orang-orang yang beruntung disisi-Nya. 

    Dokumentasi: Wendy Keninsberg Ngapain kuliah ? buat apa kuliah ? dapet jaminan apa selama kuliah ? nanti mau jadi apa setelah kuliah ? ...


   


Dokumentasi: Wendy Keninsberg


Ngapain kuliah ? buat apa kuliah ? dapet jaminan apa selama kuliah ? nanti mau jadi apa setelah kuliah ? apakah surga dapat dibeli dengan kuliah ? apakah keadilan bisa terpenuhi dengan cara berkuliah ? apakah korupsi bisa lenyap dengan berkuliah ?. Ini sungguh kondisi yang sangat pelik dimana kampus yang seharusnya melahirkan generasi-generasi agent perubahan untuk nusa dan bangsanya tapi malah dikerdilkan oleh mafia-mafia teknokrat yang sedang berkuasa didalam konstelasi ruang-ruang akademik.

Mahasiswa mirip dengan kawanan domba yang digiring sesuai dengan keinginan aparat kampus dan parahnya lagi para mahasiswa sengaja dicetak dan didoktrin sebagai alat agar siap di distribusikan untuk mengabdikan diri kepada junjungan korporasi. Secara tidak langsung hal ini jelas mengkooptasi esensi dari kesakralan Tri Dharma Perguruan Tinggi (pendidikan ,penelitian, pengabdian) yang selama ini termanifestasikan sebagai etos akademik dalam menanamkan embrio perubahan untuk nusa dan bangsa kedepannya.dengan modal awal nilai akreditasi yang menjadi alat ampuh kampus untuk menjaring calon mahasiswa baru yang kemudian digiring dan diarahkan sebagai impuls tenaga alat produksi kapitalisme yang hanya mementingkan akumulasi modal pribadi tanpa membuka kran kesadaran pikir mahasiswa dalam menganalisis ketimpangan sosial yang terjadi disekitarnya.

Dalam antropologi kampus terdiri dari berbagai ekosistem tipologi nalar mahasiswa. Ada mahasiswa yang perfeksionis, agamis, apatis, hedonis, kupu-kupu(kuliah pulang-kuliah pulang), kura-kura(kuliah rapat-kuliah rapat), kunang-kunang(kuliah nangkring-kuliah nangkring). Ini semua tentu bukan seperti list menu yang layaknya ditawarkan seorang waitress yang kemudian dinikmati setelah itu menjadi kotoran yang tak berguna. Tidak ada yang lebih baik dari semua menu itu karena manusia sejatinya makhuk yang heterogen dimana memiliki kapasitas proporsi ciri khasnya masing-masing dalam menentukan arah praksisnya. Yang paling fundamen bagaimana esensi fitrah mahasiswa ini tidak terlepas dari garis orbitnya sebagai pewaris peradaban. sehingga tidak mudah terjerumus dalam jurang lubang pragmatisme.

Menjadi cendikiawan intelektual yang dapat berkontribusi dalam membawa ghirah perubahan adalah harapan penuh oleh seorang aktivis mahasiswa. Maka kampuslah satu-satunya tempat untuk menggali sedalam mungkin sumber ilmu pengetahuan. Namun ekspektasi itu berimbas distorsi dimana pendidikan tak berani menjajikan apa yang telah dicita-citakan dari harapan itu. Faktanya masih terdapat relasi yang tumpang tindih mulai dari berbagai kebijakan regulasi yang hanya menguntungkan pihak-pihak kepentingan tertentu saja. Kebebasan mimbar akademik yang dipolitisasi. Tak hanya sampai disini masih banyak lagi kampus dinegri ini yang kurang transparan dalam mempublikasi segala instrumen yang dimiliki kampus. Maka tak jarang kampus malah lebih memilih memprivatisasikan data-data yang sangat krusial yang sudah seharusnya layak diketahui oleh mahasiswa.  Sebagai mahasiswa yang kritis dan peka terhadap lingkungan sekitar tentu hal ini membuat geram para aktivis mahasiswa untuk bangkit dan bergerak menuntut haknya.     

Bayangkan jika kampus hanya berisi peraturan, disiplin dan larangan maka itu hanya membuat mahasiswa seperti barisan serdadu yang terpetakan dalam detik arloji untuk selalu takdzim kepada rutinitas keseharian yang tak memiliki nilai esensi dalam dinamika kehidupan sosial. Kampus mengalami degradasi dari integritas kesadaran ilmu pengetahuan. Dulu kampus melahirkan cendikiawan pionir militan yang selalu setia dalam memperjuangkan kemerdekaan indonesia dari genggaman kolonialisme seperti Ir.Soekarno, Moh. Hatta dan masih banyak lagi. Paradigma perguruan tinggi hari ini semakin diperkeruh oleh prinsip-prinsip anti demokrasi yang mendapat legitimasi hukum supremasi negara. Apabila implikasi kesewenengan ini tidak dikawal dengan baik maka akan menimbulkan bahaya kontraproduktif yang hanya memperpanjang barisan perbudakan mahsiswa naif.

Sebenarnya ruang lingkup gerakan aktivis mahasiswa sangat universal tidak haya monoton berkiprah pada domestik akademik saja melainkan juga menanggung beban agent of control sebagai ujung tombak masyarakat dalam memperjuangkan keadilan sepenuhnya. Katanya negara ini menjujung asas demokratis tapi realitas pada praksisnya masih bayak diselimuti berbagai konflik sosial mulai dari penggusuran, eksploitasi alam, marginalisasi, kriminalisasi, intimidasi, represi dan segala bentuk penindasan lainnya yang merugikan masyarakat. Dari sini lah peran aktivis dituntun untuk bereaksi memberontak dan memperjuangkan keadilan hak asasi manusia yang selama ini telah dijamin dalam konstitusi negara.

Dampak dari globalisasi telah membuat banyak anak muda kehilangan rasa cinta nasionalisme terhadap bangsanya sendiri. Pengaruh tersebut membawa kita berada pada sirkulasi bonus demografi yang sangat rentan mengalami konversi kesadaran kritis seseorang. Tendensi masyarakat lebih mengedepankan budaya western-isasi dengan berperilaku konsumerisme dari pada merawat budaya lokalnya sendiri. Memang saat ini tidak bisa dipungkiri perkembangan digitalisasi teknologi informasi yang mudah diakses dan disebar luaskan tanpa harus memfilterisasi terlebih dahulu. Sehingga dalam waktu yang sesingkat mungkin masyarakat dengan mudahnya terhasut opini kearah yang kontradiktif.

Aktivis bukan gelar yang dapat dibeli dengan sejumplah nominal melainkan aktivis adalah sebuah gerakan cita-cita mimpi nyata yang berbuah manis dari setiap tindakan-tindakan progresifitas perubahan yang humanis. Kebesaran itu yang patut kita rintis mulai sejak dini mungkin agar hidup lebih substansial yang memiliki makna berarti terhadap kepuasan diri maupun lingkungan tempat dimana dirinya hidup dan tumbuh subur. Hiduppppppp mahasiswa....!!!!!!    

 

Penulis: Muhammad Ridlwan

  Dokumentasi: Ciburial.desa.id “ Siapa yang diberdayakan Masyarakat atau Mahasiwa? “ Pertanyaan ini sering terucap pada ruang-ruang dialekt...

 





Dokumentasi: Ciburial.desa.id


“ Siapa yang diberdayakan Masyarakat atau Mahasiwa? “ Pertanyaan ini sering terucap pada ruang-ruang dialektika kampus. Mahasiswa mempunyai sisi peran penting dalam mengemban amanat salah satu dari Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu pengabdian kepada masyarakat. Apapun bentuk perannya, mahasiswa adalah perancang gerakan sosial, kreativitas dan sebagai pemimpin di tengah masyarakat.

            Mahasiswa adalah kaum intelektual muda yang dijuluki sebagai penyambung lidah rakyat. Dari itu maka mahasiswa tidak akan terlepas dan terpisahkan dari derita-derita masyarakat. Ruang-ruang publik sudah berkoar mahasiswa adalah agent of change, iron stock, dan moral force. Karena itulah mahasiswa tidak hanya berkewajiban menuntut ilmu, mengejar nilai, IPK tinggi, dan hanya duduk tenang di bangku perkuliahan.

            Sebagai agent of change mahasiswa mempunyai peran penting dalam membawa suatu perubahan dalam perkembangan, kemajuan dan mempunyai nilai manfaat pada suatu lingkungan masyarakat. Untuk membuat sebuah perubahan di tengah masyarakat yang memiliki pola pemikiran yang berbeda-beda memanglah tidaklah mudah. Untuk menciptakan sebuah visi atau tujuan dalam masyarakat harus mampu menyamakan beberapa perspektif untuk mencapai kemajuan bersama. Melatih mental dan mengasah karakter kepemimpinan sangatlah penting bagi mahasiswa, karena nasib bangsa kedepannya tergantung pemudanya sekarang. Jika sekarang kaum muda itu lebih identik kepada kaum muda intelektual, memiliki pengalaman dan wawasan luas, serta menjadi sektor gerakan sosial, maka mahasiswa adalah kaum muda yang paling tepat sebagai harapan bangsa ini.

            Jika mahasiswa adalah suatu produk yang diciptakan untuk membawa perubahan dalam masyarakat, maka kampus sebagai laboratorium pengembangan dan pembelajaran kehidupan di tengah masyarakat nantinya. Karena itulah sebuah perguruan tinggi membentuk program Kuliah Kerja Nyata (KKN) sebagai bagian aktivitas pendidikan sekaligus pengabdian kepada masyarkat. Tetapi yang menjadi keresahan saat ini ialah siapa yang benar-benar memperdayakan.  Masyarakat? apa justru mahasiswa tersendiri? Seringkali KKN hanya dianggap sebagai penggugur kewajiban bagi mayoritas mahasiswa yang ingin cepat lulus atau hanya ajang pencari pendamping hidup. Seolah program kerja yang dijalankan saat KKN mempunyai jargon “asal masyarakat senang.”

            Hal seperti ini sering terjadi, akibatnya program kerja yang belum matang, pengalaman dalam mengelola dan mengorganisir kehidupan bermasyarakat belum ada, akhirnya program kerja KKN akan menjadi hal yang formalitas belaka. Mereka yang belum mengetahui betul secara menyeluruh kehidupan masyarakat, perekonomiannya, kehidupan sosialnya akan mengalir mengikuti program-program kerja desa yang sudah ada. Dalam hal ini menyadarkan bagi mahasiswa, suatu riset atau penelitian terlebih dahulu dari seluk-beluk desa yang akan ditepati sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat oleh mahasiswa sangatlah penting. Untuk merancang program kerja yang lebih matang, bahkan akan menjadi suatu program inovasi baru dalam masyarakat tersebut dan menjadi program kerja desa yang berkelanjutan.

            Jika hanya melaksanakan program kerja sebagai formalitas atau eksistensi belaka, maka bukan mahasiswa yang akan memperdayakan masyarakat agar lebih maju bagi suatu desa, tapi masyarakatlah yang akan memperdayakan mahasiswa. Mereka akan menjadi alat pembantu atau penambah tenaga kerja bagi orang-orang desa. Jika boleh saya berpendapat, kemungkinan itu sudah lumrah dan sudah menjadi kewajaran, ketika suatu pengabdian itu belum jelas arah visi dan tujuannya. Goal dan output yang akan diberikan kedapa masyarakat hanya sekedar ikut meramaikan desa, ibu-ibu PKK, perkumpulan bapak-bapak RT, dan hanya sekedar nimbrung gotong royong saja.

            Maka dari itu mahasiswa harus bisa menepatkan diri dan mempersiapkan diri ketika ingin terjun dalam kehidupan keseharian masyarakat. Semua harus mempunyai karakter seorang pemimpin dan siap ditunjuk untuk memberikan suatu arahan. Karena itulah pola kehidupan mengikuti organisasi kampus, aktif dalam organisasi intra maupun ekstra sangatlah mempengaruhi proses kreativitas mahasiswa. Mereka yang sudah bergelut di organisasi kampus akan mempunyai pola pandang yang berbeda dengan mahasiswa yang tidak pernah ikut organisasi sama sekali. Perbedaan dalam segi komunikasi, kepemimpinan, kemasyarakatan serta jaringan akan dapat dirasakan ketika mahasiwa dihadapkan secara langsung kepada masyarakat.

            Bagi kalian para mahasiswa yang masih mempunyai kesempatan belajar dan mencari pengalaman dalam organisasi, maka tekunilah! baik organisasi itu melatih karakter, skill, ataupun finasial. Carilah organisasi yang mampu mengembangkan kemampuan diri, karena masyarakat butuh bukti bukan hanya pintar komunikasi.

 

Penulis: Ahmad Syafi'i

  Dokumen: psikindonesia.org Di tengah kehidupan masyarakat yang sangat multikultural seperti Indonesia ini, Masih muncul dan terus melahi...

 



Dokumen: psikindonesia.org


Di tengah kehidupan masyarakat yang sangat multikultural seperti Indonesia ini, Masih muncul dan terus melahirkan sebuah problematika dikotomi keagamaan yang menjadi sumber konflik dalam kehidupan masyarakat. Seakan pembenaran akan identitas kelompok masih menjadi legitimasi dan doktrin yang tidak pernah redup. Agama dibenturkan dengan politik dan dijadikan alat legitimasi, Munculnya konflik sendiri memang dipicu dari adanya perbedaan yang terdapat diantara dua pihak. Namun, faktor pemicu yang paling mempengaruhi adalah praktik politisasi agama dan sempitnya pemahaman universalitas keragaman. Politisasi agama adalah politik manipulasi mengenai pemahaman dan pengetahuan keagamaan/kepercayaan dengan menggunakan cara propaganda dan indoktrinasi. Sedangkan  konflik horizontal sendiri memiliki arti sebagai konflik yang terjadi antara individu ataupun kelompok yang mempunyai status sosial sama. Sistem politisasi agama tersebut tentu melahirkan potensi konflik horizontal yang mengancam kondusifitas kehidupan bermasyarakat serta mendegradasi substansial suci dari agama.

Politisasi agama juga akan memunculkan sebuah politik identitas yang menonjolkan isu berkaitan dengan suku, agama, ras, dan antar golongan yang kemudian menjalar sampai mengakibatkan konflik horizontal berkelanjutan. Indonesia dikenal sebagai salah satu negara yang kaya akan budaya, suku, dan agama. Kekayaan tersebut dibuktikan dengan kepemilikian lebih dari 300 suku bangsa dan terdapat lebih dari 200 bahasa daerah. Selain itu Negara kepulauan ini mengakui 6 agama resmi antara lain Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Khonghucu. Dari keberagaman dan kekayaan tersebut, Indonesia memiliki julukan nama sebagai salah satu negara pluralisme dengan berbagai macam agama, budaya, dan bahasa yang disatukan dengan semboyan bernama “Bhineka Tunggal Ika” atau memiliki makna berbeda-beda tapi tetapi satu.

Namun, Kekayaan keberagaman tersebut juga dapat berpotensi terjadinya konflik horizontal kelompok. Hal tersebut bisa terjadi tak lain dan tak bukan karena adanya latar belakang serta sudut pandang berbeda dikarenakan dampak dari praktik politisasi agama, tak heran adanya ketegangan akan dikotomi keagamaan kerap kali muncul dikarenakan dampak dari politisasi agama. Indonesia sendiri memiliki banyak sebuah catatan historis sebuah peristiwa konflik horizontal berbasis agama. Seperti konflik di Poso, Sulawesi Tengah tahun 1998. Saat itu, tak sedikit masjid dan gereja dibakar. Puncaknya, pada tahun 2000 hingga 2001 konflik agama sudah mengerucut menjadi perang saudara. Tak jauh berbeda dengan konflik Poso, Konflik Ambon pun memliki kasus yang kurang lebih sama. Konflik Ambon sendiri terjadi pada tahun 1999 hingga 2002. Politisasi agama yang menyebabkan konflik horizontal menjadi faktor kerentanan semakin banyak dan kompleks, dan jika dianalisa, lebih banyak disebabkan oleh elite pemerintahan dan para pemuka agama serta tokoh masyarakat, namun para elite ini tidak pernah mengakui kesalahannya, mereka cenderung mempersalahkan oknum masyarakat.

Upaya  untuk  membangun  pemahaman  dan  kesadaran kritis akan isu politik identitas dan politisasi agama yang seringkali menjadi faktor pemicu timbulnya konflik horizontal yang diakibatkan oleh gesekan kepentingan baik internal maupun antar pemeluk agama. Sebuah rencana besar mereka yang ingin menghasilkan sebuah keuntungan secara materi dan politik dari agama akan membawa dampak negatif secara signifikan. Agama  yang  di  dalamnya  mengajarkan  hidup  damai  dan  saling  menghormati  akan  terjebak  dalam tafsir  tunggal melalui  fatwa-fatwa dan hegemoni keagamaan.  Padahal,  agama  menyediakan  ruang  tafsir  yang  sangat  fleksibel  dengan  syarat  setiap  tafsir  mampu membawa kemaslahatan bersama.

 

 

 

         Penulis    : Rifqi Muhibbudin Al Muwafiq

     

 

  PRAJURIT Karya: Aldhania uswatun hasanah Subuh menyingsing di ufuk timur Nusantara. Matahari begitu tenang, menggagas pagi yang hampir mem...

 PRAJURIT

Karya: Aldhania uswatun hasanah




Subuh menyingsing di ufuk timur Nusantara.

Matahari begitu tenang, menggagas pagi yang hampir membulat.

Di tengah samudra yang membentang,

Para prajurit bersiap, tak sabar kembali menghirup udara luar. 

"Bersiaplah! Kita akan menuju dermaga"


Seorang istri yang menanti kepulangan,

Mengirimi pesan berkali-kali, memberi sinyal kerinduan yang teramat sangat.

"Mungkin dia sedang sibuk.." gumamnya.


Tepat setelah ashar, 

Pertanda hari mulai sore, 

Di sudut ruang keluarga, suara televisi membuatnya tersentak, "Telah hilang kontak, Kapal selam KRI Nanggala 402..." 

Di iringi rengekan seorang anak belia, juga rindu akan ayahnya.


Apa ?

Tidak mungkin. bukan dia!


Sekujur tubuh merintih tak berdaya, 

Hiasi kekhawatirannya yang tak menentu, 

Airmata merembes dari kedua matanya, 

Tidak lupa, sembari menengadah kepada Tuhan mengharap keajaiban.


Waktu hampir usai,

Aroma laut memberi tanda tak biasa, 

Tidak ada kabar yang membuatnya bernafas lega, hingga setibanya pada ujung penantian, kapal selam itu dinyatakan tenggelam.


Sementara itu, 

Para prajurit berbaris gagah menuju dermaganya,

Tidak ada yang hilang,

Kilau keberanian menjadi saksi atas perjuanganmu, 

Jiwa ketulusan, membawamu syahid bersama tugas negara.

Jasamu akan tetap terpatri,

Kendatipun kau telah tiada.

On eternal patrol Nanggala

  Sebuah Terobosan Umpan Silang Melawan Life Quarter Crisis ( Me Time ) Karya: Lutfi Abdul Had i Kesehatan mengenai mental akhir-akhir ini m...

 

Sebuah Terobosan Umpan Silang Melawan Life Quarter Crisis (Me Time)

Karya: Lutfi Abdul Hadi



Kesehatan mengenai mental akhir-akhir ini memang menjadi sorotan. Entah mengapa obrolan-obrolan yang berkaitan dengannya enggan dipisahkan dari keseharian kita. Seakan muatan-muatan psikologi seakan membumi secara signifikan. Jujur saja saya turut berbangga dengan pencapaian netizen kali ini. Terlepas dari perilakunya yang sering membuat onar di jagat media.

Belakangan ini istilah-istilah dari psikologi pun mulai familiar di telinga, mulai dari self love, me time, hingga self- self yang lain pun ikut naik daun. Peristiwa seperti ini memang membuat bingung. Ada apa dengan masyarakat kita hari ini. Semua dibuat bertanya-tanya setelah tren- tren positif mulai menjamur di fyp (For Your Page) sosial media kali ini.

Sebenarnya kondisi seperti “Me Time” hari ini tidak usah dibuat pusing. Semua orang memang ada saatnya untuk menikmati waktu sendiri. Jadi nggak usah kaget ketika temanmu kali ini ngomong “Aku pengen Me Time." Me Time adalah kondisi dimana kita meluangkan waktu untuk diri sendiri. Jadi ada moment ketika kita bersosial  dan ada juga moment untuk diri sendiri. 

Namun jangan sampai salah diartikan bahwa Me Time itu asosial atau tidak mau bersosial. Karena “Me Time bukan sepenuhnya untuk menyendiri, akan tetapi ada scene khusus untuk menyendiri. Jadi jangan sampai biang biang su"udzon dibiarkan subur di kepala kita. Mungkin saja teman kita atau kita sendiri lagi sedang mengalami galau yang meradang. Atau sedang tidak mood ,istilah sekarang.

Yang harus perlu kita catat ialah jangan sampai kedok “Me Time” ini malah dibuat suatu alasan untuk lari dari masalah. Ini lah yang mereduksi poin-poin plus dari “ Me Time”. Yang awalnya baik malah menjadi troublemaker.  Seharusnya kita sudah tahulah mana yang harus diambil hikmahnya.

Jika kita perhatikan, sebenarnya banyak manfaat yang dikucurkan dari peristiwa Me Time ini. Salah satunya dan yang paling utama yakni merefleksikan dari. Walaupun ini nampaknya sepele tapi berdampak sangat luas bagi individu tersebut. Hampir sama ketika kita memulai hari dengan menyeruput kopi dan mulai membuka halaman demi halaman di atas pangkuan. Monggo kawan, bisa dirasakan sendiri sensasinya.

Trend-trend positif yang menggandrungi anak urban kali ini mungkin sedikit meresahkan dimata orang-orang yang kurang mengerti tentang keadaan sekitar. Karena dari gelagatnya memang selalu dibuat penasaran. Sudahlah biarkan saja mereka memprioritaskan personalnya untuk keterasingan. Perihal kebutuhan yang tahu memang dirinya. Tugas kita sebagai teman yang budiman ialah mencoba memberikan uluran barangkali dapat membantu kegundahannya.

Perihal life quarter crisis semua orang pernah mengalami atau juga bisa jadi sedang merasakan. Kondisi dimana orang dibuat anxiety semalaman adalah konsumsi yang wajar anak muda kali ini. Bukan karena mereka yang kurang produktif akan tetapi lingkungan mereka yang mau tidak mau membuat kompetisi secara alamiah. Posisi sosial media yang ada digenggaman tanganpun sangat menyumbang besar dalam kasus kali ini.

Kesenjangan produktivitas, kesenjangan gaya hidup, hingga uang saku tampak terlihat jelas.  Ini bukan suatu peristiwa yang wajar  jikalau dibiarkan. Khawatirnya lagi kita malah meresponnya dan berujung dengan tidak mensyukuri nikmat yang diberikan itu malah kebablasan. Sejatinya proses kesuksesan seseorang bukanlah kompetisi, semua mempunyai startnya masing-masing. Gus dur pernah mengatakan: “ Menyesali nasib tidak akan mengubah keadaan. Terus berkarya dan bekerjalah yang membuat kita berharga”.

Menurut Psikologi Klinis Dewasa, Ilham Anggi Putra, M.Psi, Psikolog, Quarter Life crisis adalah situasi dimana seseorang merasa tidak kukuh pada dirinya sendiri. hal ini muncul karena ada transisi kehidupan di mana orang-orang di sekitarnya mulai memiliki jalannya masing-masing. Sehingga dia mulai membandingkan jalan orang dengan jalan hidupnya sendiri.

Singkatnya Life quarter crisis ini malah membuat insecure kita menjadi superior. Entah karena budaya orang tua kita yang selalu membandingkan kita dengan tetangga kita. Atau juga kita yang terlalu berlebihan dalam merespon kesenjangan prestasi kita. Wallahu a’lam kalau itu. Me time mungkin bisa menjadi solusi dalam mengobati keambyaran kita dalam menerka masa depan.


Mengenal Apa Itu Terorisme Karya: Fauzan   Terorisme dipandang sebagai fenomena global yang mengancam tatanan negara didunia. Tidak hanya an...

Mengenal Apa Itu Terorisme

Karya: Fauzan 



Terorisme dipandang sebagai fenomena global yang mengancam tatanan negara didunia. Tidak hanya ancaman perdamaian dunia, khususnya keamanan, tetapi juga ekonomi, sosial dan masa depan pemerintahan sebuah negara. Definisi dari terorisme bermuara pada fakta bahwa terorisme merupakan instrumen dari sebuah “Proyek politik”  atau agama dimana para pelakunya terus berupaya mencari dukungan dengan melakukan serangkaian aksi kekerasan publik yang demonstratif yang diikuti oleh berbagai ancaman dalam rangka untuk menekan, mengintimidasi dan memaksa dengan kekerasan atas target atau sasaran.

Teroris yang mengatasnamakan islam seperti jaringan Al-Qaeda, ISIS tidak berarti sepenuhnya muncul karena ajaran agama. Terorisme muncul cenderung melalui faktor struktural yang melingkupi satu komunitas tertentu, daripada tasfir tertentu atas ajaran agama, meskipun pada gilirannya nanti tasfir tersebut digunakan untuk melegitimasi gerakan teror yang dilakukan. Pada saat inilah orang mengambil kesimpulan secara ngawur bahwa tindak terorisme muncul karena paham agama.

Secara etimologis, kata radikal sesungguhnya netral. Radikalis, kata sifat ini berasal dari bahasa latin, radix atau radici. Dimaknai lebih luas, istilah radikal mengacu pada hal menndasar, prinsip-prinsip  fundamental, pokok soal, dan esensial atas bermacam gejala. Dalam pendekatan filsafat, berfikir radikal bermakna berpikir mendasar sampai pada akar obyek yang dikaji.

Radikalisme merupakan paham/aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan. Gerakan radikalisme biasana bersifat masif dan membentuk karakter intoleran dan memandang kebenaran tunggal hanya milik kelompoknya. 

Kampanye anti-teroris juga dilakukan berbagai kelompok seperti pesantren dan perguruan tinggi. Deradikalisasi adalah suatu proses untuk menjadikan seseorang agar mereduksi pemahaman, sikap dan perbuatan radikal. Dalam menangani persoalan terorisme perlu dilakukan pendekatan-pendekatan terhadap kelompok-kelompok masyarakat yang cenderung memiliki ciri-ciri paham radikal. Dapat disimpulkan bahwa  sebagai sebuah persoalan, terorisme memiliki dimensi lokal, regional, dan ,internasional. Terorisme tidak bisa didekati dari kacamata pencegahan saja apalagi dengan menggunakan cara-cara represif.