PMII RAYON DAKWAH

  Nikmat Mana yang Kau Dustakan? Karya: Ratna Sore ini, sang senja masih berwarna kemerahan. Namun, ada pembeda dari hari sebelumnya. Termen...

Nikmat Mana yang Kau Dustakan?

 Nikmat Mana yang Kau Dustakan?

Karya: Ratna


Sore ini, sang senja masih berwarna kemerahan. Namun, ada pembeda dari hari sebelumnya. Termenung menatap langit yang dirindukan dengan berbagai tanda tanya. Mengeluh? Sering. Merasa paling mengenaskan? Sering. Merasa tumbuh dalam ketidakadilan semesta? Bibir ini menyunggingkan senyum kemirisan. Apa kedua tangan yang diciptakan dengan sangat sempurna masih belum cukup untuk melontarkan,”Alhamdulillah.” 

Kenyataanya tidak. Semua yang belum menjadi milik kita akan menjadi hasrat yang amat menggairahkan. Rumput tetangga Nampak jauh lebih hijau? Begitulah manusia. Sudah diberi Jantung minta Ampela. Sudah dikasih Ampela minta Ginjal. Jika bisa mendapatkan dua, kenapa harus satu? Jika bisa mencapai tiga, kenapa berhenti di angka dua?

Hidup dengan keserakahan, berjalan dengan ketamakan seolah ambisi seorang manusia dalam proses menikmati kehidupan semesta. Setiap hari apa yang dicapainya terasa tidak pernah cukup sama sekali. Kenyang dengan satu piring nasi, masih meminta dua porsi lagi. Bahkan untuk manusia serakah, dunia seisinya pun tidak pernah puas. 

Pernah pertama kali mendapatkan gaji sekecil apapun mengucapkan kalimat keberkahan,”Alhamdulillah, terimakasih untuk rizki yang kau berikan pada hari ini Ya Allah.” Permintaan yang besar jika tidak dipenuhi akan menyesakkan batin. Bukankah begitu? Marah? Pasti. Sakit? Tentu. Atau mengira bahwa semua ini tidak adil? Mungkin. 

Pernahkah kita bertafakkur? Coba lihat ketika kita sedang melakukan olahraga pagi misalnya. Dipersimpang jalan ada pria yang sudah tua renta, bukannya mengobati lelahnya. Mereka masih harus menjaga semua kendaraaan yang sedang terparkir di depan toko, swalayan, pasar, kantor, dan sejenisnya. Ada juga wanita paruh baya yang sedang menyapu Lorong-lorong jalan raya dengan sesekali mengusap keringat dipelipisnya. Siang tadi, kisah ini menampar hati yang mulai mengeras. Membawa beban dagangan dengan pikulan, kedua sisinya ada beraneka makanan yang harus dijajakan. Sedangkan tubuhnya mulai melemah, matanya yang mulai rabun, langkahnya yang nampak gemetar, suaranya yang sangat lirih, dan telinganya sudah tidak seperti usia dua puluhan, pendengarnya sedikit bermasalah. 

Akankah kita akan mengatakan kembali bait-bait kekufuran pada Tuhan? Atau hati ini masih mengeras seperti batu? Banyak diluar sana yang hidup dengan airmata. Banyak sekali yang harus menyusuri fajar hingga rembulan datang hanya cukup untuk makan sesuap nasi. Mungkin, yang paling mengenaskan berhari-hari merasakan nyeri di perutnya karena lapar. 

Mau sampai kapan ketamakan ini dipelihara? Kita masih memiliki anggota tubuh yang lengkap dan sempurna untuk berusaha. Ditambah lagi, kita masih muda, kuat secara fisik untuk berjuang lagi. Saking baiknya Tuhan pada kita, setiap hari kita masih bisa menikmati secangkir kopi dipagi hari, makanan hangat yang sudah tersedia dimeja makan sampai uang yang masih cukup untuk kebutuhan esok pagi. Setidaknya, hal itu sudah cukup bukan? Betapa Tuhan sudah sudi memberikan banyak kebaikan untuk pendosa seperti kita. 

Ingatkah Tuhan pernah memberitahu satu hal, “Jika kamu bersyukur kepada-Ku maka akan Kutambah nikmatmu. Jika kamu kufur kepada-Ku maka sungguh azab-Ku sangat pedih.” Tuhan sudah menjamin kehidupan orang-orang yang senantiasa bersyukur kepada-Nya. Jadi, yuk mulai hari ini kita mulai lembaran baru dengan rasa syukur setiap hari. Tetaplah bersyukur. Semoga dengan kita menjadi manusia yang selalu bersyukur, kita termasuk orang-orang yang beruntung disisi-Nya. 

0 komentar: