MASIGNASUKAv102
6510051498749449419

Nikah Muda dan Pendidikan: Antara Keberanian Mengambil Resiko dan Kebijaksanaan Menata Masa Depan

Nikah Muda dan Pendidikan: Antara Keberanian Mengambil Resiko dan Kebijaksanaan Menata Masa Depan
Add Comments
Jumat, 16 Januari 2026

 

(Doc. Google.com)

Perbincangan tentang nikah muda dan pilihan menunda pendidikan sedang ramai di media sosial. Banyak orang menganggap nikah muda sebagai keputusan nekat yang penuh risiko, sedangkan menunda menikah demi pendidikan dianggap sebagai pilihan paling aman. Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu. Hidup tidak selalu bisa dilihat hitam dan putih. Setiap pilihan memiliki tantangan dan pertimbangannya masing-masing.

Nikah muda sering dianggap hanya didorong oleh emosi atau tekanan lingkungan. Namun bagi sebagian orang, menikah di usia muda justru menjadi awal belajar bertanggung jawab. Dalam pernikahan, seseorang belajar berbagi peran, menyelesaikan masalah bersama, serta mengambil keputusan bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk pasangan. Artinya, nikah muda bukan sekadar berani mengambil risiko, melainkan kesiapan untuk belajar dan tumbuh bersama.

Meski begitu, pendidikan tetap menjadi hal penting yang tidak bisa diabaikan. Pendidikan membantu membentuk cara berpikir, membuka wawasan, dan meningkatkan kualitas hidup. Jika pendidikan terhenti karena menikah terlalu dini, bisa muncul dampak jangka panjang, seperti terbatasnya peluang kerja, ketergantungan ekonomi, dan kesulitan menghadapi tantangan rumah tangga. Karena itu, keputusan menikah perlu dipikirkan secara matang dengan mempertimbangkan keberlanjutan pendidikan.

Di sisi lain, menunda pernikahan demi menyelesaikan pendidikan juga bukan berarti menghindari tanggung jawab. Banyak orang justru ingin mempersiapkan diri lebih baik agar ketika menikah sudah memiliki bekal ilmu, kedewasaan, dan kemandirian. Pendidikan bukan hanya soal gelar, tetapi juga tentang pembentukan karakter, cara berpikir dewasa, dan kemampuan mengambil keputusan secara bijak.

Keberanian sejati bukanlah bertindak nekat tanpa pertimbangan, melainkan berani mengambil keputusan dengan sadar akan risiko dan tanggung jawabnya. Begitu pula kehati-hatian bukan tanda takut, tetapi wujud kebijaksanaan dalam merencanakan masa depan. Baik nikah muda maupun menunda pendidikan sama-sama bisa menjadi pilihan yang baik, selama dijalani dengan kesiapan.

Karena itu, keputusan menikah atau melanjutkan pendidikan seharusnya tidak hanya dilihat dari usia. Yang lebih penting adalah kesiapan mental, emosional, finansial, dan sosial. Setiap orang memiliki latar belakang dan tujuan hidup yang berbeda, sehingga tidak adil jika satu pilihan dianggap paling benar untuk semua orang.


Penulis : Livia Alviatunnajah