MASIGNASUKAv102
6510051498749449419

Fenomena FOMO: Tantangan Kesehatan Mental dan Keimanan di Era Digital

Fenomena FOMO: Tantangan Kesehatan Mental dan Keimanan di Era Digital
Add Comments
Jumat, 06 Februari 2026

(Sumber : Pinterest.com)


Fear of Missing Out (FOMO) merupakan fenomena psikologis yang semakin menguat seiring pesatnya perkembangan media digital. FOMO merujuk pada perasaan cemas dan takut tertinggal dari pengalaman, pencapaian, atau tren yang dialami orang lain. Media sosial menjadi medium utama yang memperparah kondisi ini, karena menampilkan potongan-potongan kehidupan yang tampak ideal dan sukses, tanpa memperlihatkan proses serta realitas di baliknya.

Dalam perspektif Islam, FOMO berkaitan erat dengan persoalan pengendalian diri dan ketenangan hati. Allah SWT mengingatkan manusia agar tidak terjebak dalam perbandingan sosial yang berlebihan. Dalam QS. Al-Hadid ayat 20, Allah menegaskan bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan, perhiasan, dan saling bermegah-megahan. Ayat ini menjadi landasan bahwa obsesi terhadap pengakuan sosial dan pencapaian duniawi berpotensi menjauhkan manusia dari kesadaran spiritual.

Fenomena FOMO juga dapat memengaruhi kesehatan mental. Rasa tidak cukup, cemas berlebihan, hingga kehilangan arah hidup kerap muncul akibat tekanan untuk selalu mengikuti arus tren. Islam memandang ketenangan batin sebagai nikmat yang harus dijaga. Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan Allah menjadikannya qana‘ah terhadap apa yang diberikan kepadanya.” (HR. Muslim). Hadis ini menegaskan pentingnya sikap qana‘ah sebagai penangkal kecemasan sosial.

Dari sudut pandang etika Islam, FOMO juga dapat mendorong perilaku yang melampaui batas, seperti memaksakan gaya hidup, mengabaikan prioritas ibadah, hingga menormalisasi perilaku konsumtif. Padahal, Islam menekankan keseimbangan (tawazun) antara kebutuhan dunia dan akhirat. Setiap individu memiliki jalan hidup dan ujian yang berbeda, sehingga membandingkan diri secara terus-menerus hanya akan menumbuhkan kegelisahan.

Dalam konteks kontemporer, upaya menghadapi FOMO membutuhkan kesadaran literasi digital dan penguatan nilai spiritual. Membatasi konsumsi media sosial, memperbanyak muhasabah, serta menjaga hubungan dengan Allah melalui dzikir dan doa merupakan langkah konkret untuk meredam tekanan psikologis. Media sosial sejatinya dapat menjadi sarana inspirasi dan dakwah, selama digunakan dengan niat dan kontrol yang tepat.

Dengan demikian, fenomena FOMO tidak hanya menjadi isu psikologis, tetapi juga persoalan keimanan dan akhlak. Islam menawarkan solusi melalui penguatan rasa syukur, qana‘ah, dan kesadaran akan tujuan hidup. Di tengah budaya serba cepat dan kompetitif, ketenangan hati menjadi modal utama agar seorang muslim tetap teguh dan tidak kehilangan makna hidup.


Penulis : Fatma Ayu