Gen Z dikenal sebagai generasi yang penuh
semangat dan memiliki banyak mimpi. Berbagai target ingin dicapai, mulai dari
pendidikan, karier, hingga kehidupan yang dianggap ideal. Ambisi tersebut tentu
menjadi energi untuk terus berkembang dan memperbaiki diri. Namun, di balik
semangat itu, tidak sedikit anak muda yang diam-diam menyimpan rasa lelah
karena terus berusaha memenuhi berbagai ekspektasi, baik dari lingkungan maupun
dari dirinya sendiri.
Di era digital, keberhasilan sering kali diukur
melalui apa yang terlihat. Pencapaian akademik, pekerjaan yang mapan, hingga
kehidupan yang tampak sempurna di media sosial, seolah menjadi standar baru
dalam menilai diri. Akibatnya, banyak anak muda merasa berhasil ketika
targetnya tercapai, tetapi merasa gagal ketika harapan tidak sesuai kenyataan.
Padahal, hidup tidak selalu berjalan mengikuti rencana yang telah disusun
dengan matang.
Dalam Islam, manusia diajarkan untuk berusaha
sebaik mungkin tanpa melupakan tawakal. Allah Swt. berfirman:
“Kemudian apabila engkau telah membulatkan
tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang-orang
yang bertawakal.” (QS. Ali Imran: 159).
Ayat tersebut mengajarkan bahwa ikhtiar dan
tawakal bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Keduanya justru saling
melengkapi. Manusia diperintahkan untuk bekerja keras, belajar, dan berjuang
meraih apa yang dicita-citakan. Setelah itu, hasil akhirnya tetap diserahkan
kepada Allah sebagai bentuk keimanan dan kepercayaan kepada-Nya.
Ambisi memang penting karena dapat mendorong
seseorang untuk terus bergerak maju. Akan tetapi, ambisi yang tidak diiringi
dengan tawakal sering kali melahirkan kegelisahan. Seseorang menjadi terlalu
sibuk memikirkan hasil, takut gagal, dan cemas terhadap masa depan yang belum
tentu terjadi. Padahal, tidak semua hal berada dalam kendali manusia. Ada
banyak perkara yang hanya dapat dipahami melalui keyakinan bahwa Allah memiliki
rencana terbaik bagi setiap hamba-Nya.
Oleh karena itu, menjadi Gen Z bukan berarti
harus selalu kuat, produktif, dan sempurna setiap saat. Ada kalanya, seseorang
perlu berhenti sejenak untuk mengevaluasi diri dan mengingat bahwa hidup bukan
hanya tentang mengejar pencapaian. Terkadang, ketenangan justru hadir ketika
seseorang mampu menyeimbangkan antara usaha dan tawakal. Pada akhirnya,
keberhasilan tidak hanya diukur dari apa yang berhasil diraih, tetapi juga dari
kemampuan untuk tetap percaya kepada Allah dalam setiap proses kehidupan.
Penulis : Fatikhatur Rahmatika
Posted by 

comment 0 Comments
more_vert