PMII RAYON DAKWAH

Nasionalisme Karya:  RISKI KHOIRUN NISA Indonesia aku Indonesia Tanah pujangga keakraban dunia Air sumber kehidupan manusia Beta sang berlab...

Nasionalisme

Nasionalisme

Karya:  RISKI KHOIRUN NISA



Indonesia aku Indonesia

Tanah pujangga keakraban dunia

Air sumber kehidupan manusia

Beta sang berlabuh di muara penuh perkasa

Pusaka ujung tombak menjadi bukti

Abadi selamanya akan tetap mati

Jaya tekad kita rakyat jelita

Indonesia aku Indonesia

Sejak itu tuk menanti jawabmu

Dulu kau bersinar bagai bulan terpadu

Kala sang kuasa berani jujur terbelenggu

Selalu ditertawakan diatas sana

Dipuja kala ingin bangkit dihina kala masih mengungkit

Bangsa yang haus akan tertawa melihat rakyat bersuara

Disana disini kami berbeda nan tetap bersatu

Tempat bersatu melantangkan suara jeritan kita

Lahir bakti membuat rekayasa

Beta tampak kau pandang tak ada

Dibelai lembut ketika tampak pamrih kebangkitan

Dibuai dengan kelembutan yang penuh hasyutan

Dibesarkan masalah kecil di kecilkan masalah besar

Bunda engkau dimana lihatlah negrimu ini

Tempatmu tak seperti dulu

Berlindung yang salah dilindungi

Dihari jumat hari kematian mati tak mati bangkit tak bersandiwara

Tua sudah negri hancur membara

Sampai runtuh kepercayaan sang kuasa

Akhir demi akhir kan terbukti

Menutup segala kesalahan yang terpendam mendiami

Mata air kan terjatuh berulang kali

0 komentar:

 Satu persatu paku-paku mulai Engkau cabuti, bumi-MU ini akan semakin gonjang-ganjing. Kekasih! hujanilah “ Tlatah Jagad ” ini dengan ketulu...

Gonjang-Ganjinge Jagad

 Satu persatu paku-paku mulai Engkau cabuti, bumi-MU ini akan semakin gonjang-ganjing. Kekasih! hujanilah “Tlatah Jagad” ini dengan ketulusan Cinta-MU. Agar segala macam” Angkoro” Terguyur dan luntur.

Dari awal kita memijak berjalan diawal tahun kembar (2020). Dapat dirasakan betapa Gonjang-ganjingnya tlatah jagad ini, kita dihadapkan dengan musuh tang tak berwujud, tak terlihat, bahkan tak tercium oleh radius penciuman panca indra. Di awal tahun kembar ini marak dan ramai kita jumpai, kita dengar, berita-berita yang ”kemebur” mulai dari kabar-kabar dari mulut-mulut tetangga, kawan, dan saudara dan juga kita jumpai di  segala media cetak maupun media online/digital.  Tahun kembar di awali dengan masa-masa yang penuh  “korat-kariteng menungso” mulai dari kepanikan/kecemasan, sampi duka-duka yang tak henti-henti hingga tetesan air masa mengguyur, mengaliri, membasahi kulit pipi.

Tahun dimana bermunculannya berbagai macam ungkapan persepsi, pemikiran, dengan segala penyesuaian teori-teori yang telah ada atas terjadinya “gonjang-ganjing jagad” dari para ahli maupun teori. Namun dari berbagai macam upaya yang sudah dilakukan dalam bentuk pemikiran pernahkah terselip atau terlintas dibenak sampai hati kecil bertanya kenapa dengan Bumi ini? Adakah kekeliruan yang tanpa kusadari sering kujalani bahkan menjadi kebiasaan atau rutinitas, ataukah menjadi budaya yang sudah mendarah daging didiriku, sekelilingku, bahkan menjadi hal yang universal di ranah nasional ataupun internasional. Terlintaskah pemikiran-pemikiran yang sebegitu mendasar dibenak fikiran kita? Sadarkah diri kita atas kebiasaan  apa yang kita jalani, sampai-sampai lalai bahkan amesia tentang “Sangkan paraning dumadi.” Sadarkah diri kita bahwasanya diri ini “Leno”  atas dualitas yang memutari kehidupan kita ini memiliki balasan, sampai-sampai membuat-NYA. “Gusti engkang Maha Agung” memberi Warning! Kepada kita “Wayang-wayang” penghuni Tlatah jagad ini. Adakah sepintas pemikiran atau rasa untuk  bermuhasabah? Cobalah pejamkan mata, tarik nafas sedalam-dalamnya, lalu hembuskan kemudian bertanyalah pada diri kita masing-masing, seberapa parahkah “Lenoku”? tentu jawabannya ada pada diri kita pribadi. Dengan penuh kesadaran jiwa kita cobalah untuk mengingat kembali agar kita benar-benar “Eling” dari sini mulailah untuk membenahi kebiasaan-kebiasaan yang tanpa kita sadari bahwa itu sebuah kekeliruan. Dengan rasa “Legowo”  kita benahi tiang-tiang  yang tanpa sadar sudah mulai rapuh, kita benahi segala urusan kita dengan sang pencipta “Gusti engkang Maha Agung.” Renungilah, dengan penuh kesadaran atas segala kekeliruan yang kita lakukan. Bumi ini sebegitu luasnya untuk menjadi alas, dataran untuk kita merenung,merintih dan memohon. Agar diturunkannya cahaya welas asih dan kasih sayang dari-NYA “Gusti engkang Maha Agung.”

Belum reda “gonjang-ganjinge jagad” yang kita rasakan hingga berakhirnya tahun “kembar” (2020) sampai beralih ke tahun baru, saya pribadi menyebutnya “Kembar netes siji” (2021). Di sini bertambah lagi sebegitu banyaknya kita dengar secara beruntun kabar-kabar duka atas mulai dicabutinya” paku-paku jagad” dan lagi banyak kita saksikan “Gonjang-ganjinge jagad” mulai dari berita gunung erupsi, gempa bumi, banjir diberbagai daerah. Mungkin saja selain sudah menjadi sebuah garis takdir bisa saja ini terjadi karena ketidak selarasan realitas yang kita jalani di “Tlatah jagad” ini, dan mungkin saja karena telah kembalinya beliau-beliau Sang “Paku-paku Jagad” menjadikan kurang seimbangnya sirkulasi kehidupan di jagad ini. Namun atas duka dan kesedihan yang kita alami, diri ini haruslah “Legowo” dan mulai belajar dengan penuh kesadaran, dari titik kejernihan hati maupun fikiran, bahwa hakikatnya semua yang diciptakan akan kembali kepada Sang Pencipta. “Sangkan paraning dumadi” dimana ada asal dan tujuan kita diciptakan, asal dan kembalinya diri ini, untuk menuju ke kehidupan yang lebih kekal. Atas kembalinya beliau-beliau sang “paku-paku jagad” alangkah lebih baiknya tidak hanya kesedihan yang menyertai kita, mari bersama-sama kita kirimkan Doa kepada beliau-beliau yang sudah berpulang, semuanya  mulai dari keluarga, guru atau kiyai kita, para tokoh di segenap elemen masyarakat, saudara, sahabat, tetangga, atau siapapun yang sudah berpulang untuk bertemu “Sang Maha Agung” semoga semuanya diberikan tempat  yang sebaik-baiknya, yang layak, indah nan nyaman disisi-NYA. 

Semua berawal dari diadakan lalu ada kemudian tiada (0,1,0). ini terjadi hanya secara fisik atau wujud yang lebur hanyalah jasad, namun hakikatnya diri kita akan tetap ada walaupun jasad sudah tiada atau lebur, jasad atau fisik ini hanyalah sebagai kendaraan dan jiwa, sukmo, atau roh yang menempati jasad inilah yang menentukan mau kemana arah jalan diri ini.  Segala apapun yang kita lakukan semua ada timbal baliknya, apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Bagi beliau-beliau  yang sudah berpulang, mereka hanya tiada secara jasad atau wujud, namun kita tetap dapat menjumpai mereka dengan cara tersendiri tentunya dengan kejernihan hati dan fikiran dan penuh kesadaran, beliau-beliau tetap dapat melihat kita yang masih wujud secara material dan berpijag di atas “Tlatah jagad”  ini, yakinlah! Beliau-beliau tetap mendoakan kita untuk keselamatan kita dan keseimbangan kehidupan anak cucu, kerabat, sahabat, dan semuanya yang masih menjalani kehidupan di “Tlatah jagad” ini. 

Dari segala benturan-benturan yang kita alami, fikirkan, dan  rasakan. Dengan fikiran dan hati yang jernih dan penuh kesadaran, segala yang kita alami benturan-benturan ini merupakan  salah satu kejadian atau proses kehidupan sebagai seorang “Kawula” agar menjadi “Bentuk.” Semoga dari diri kita masing-masing dengan hati dan fikiran yang jernih dapat benar-benar sadar dan “Eling”  akan segala yang kita jalani  dalam proses kehidupan ini, ingat akan “Sangkan paraning dumadi.”

 Karya: Sukron Makmun



0 komentar: