PMII RAYON DAKWAH

  Dokumen: TribunKaltim.co Dari: Keponakanmu Untuk: Om So Assalamu'alaikum Om So, kini kutulis kembali surat untukmu, setelah ku baw...

Surat Harian Untuk Perampok Zaman


 Dokumen: TribunKaltim.co




Dari: Keponakanmu

Untuk: Om So

Assalamu'alaikum Om So, kini kutulis kembali surat untukmu, setelah ku bawah rinduku pulang ke tanah kelahiran. Saat diriku di atas laju motor dari Semarang, ternyata diriku tidak hanya membawa rindu Om, tapi diriku juga membawa keresahan hati dan fikiran yang tak sengaja terbawa. Kau tahu apa itu Om? Ya lagi-lagi tentang negeri ini Om, alam, lingkungan, kehidupan modern ini meninggalkan resah malam ini. Kau tahu Om? Alam persawahan dan perkebunan, sepanjang mataku memandang. Kini tidak lagi terlihat hijau menyegarkan. Tapi kini telah rata dengan tanah, tertuliskan “tanah kavlingan, siap dijual dan dibangun perumahan dan kawasan industry”.

Om? Apa para petani sudah lelah berjuang di negeri sendiri? Apakah petani bosan dengan hasil panen yang selalu rugi? Ataukah petani sudah tidak ingin lagi jadi petani? Om, semoga kau menjawab pertanyaaanku semua ini. Di zaman modern ini Om, sangat sempit sekali lahan yang kosong. Dimana biasanya ramai permainan anak-anak kecil ataupun orang dewasa. Kini semua telah dioperasikan dalam pembangunan-pembangunan yang mengatasnamakan kemajuan zaman. Om, tanah yang biasanya aku lihat tertanami pohon-pohon, padi-padi, dan sayuran. Kini telah tertanami gedung-gedung yang berdiri subur, dengan cerobong besi yang selalu menguap tiap harinya Om.

Sungguh hati ini terasa tergetarkan rasa kemanusiaan, ketika kulihat pembangunan-pembangunan yang semakin semarak akhir-akhir ini, harus sedikit demi sedikit mengikis dan menyudutkan lahan-lahan pangan. Bagaimana bisa nantinya mendapatkan air bersih, tanah yang subur, bila berdampingan dengan pabrik-pabrik raksasa dengan pembuangan limbah dan lainnya? bagaimana kita bisa menikmati keindahan alam yang hijau dan bersih, jika semua itu dibuat untuk kaum-kaum elit belaka ?

 Sekarang sudah banyak sekali perumahan-perumahan yang terbangun megah dan indah, yang tak hanya berdiri di tengah kota atau sudut kota, tapi juga di sudut-sudut desa juga Om. Seakan kekayaan alam ini hanya untuk orang-orang beruang dan sanggup membayar. Bukankah dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 33Ayat 3 dimana bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besar untuk kemakmuran rakyat.

Apakah rakyat yang harus hidup di sudut-sudut kota dan pelosok desa yang kumuh, apakah rakyat yang harus rela hidup di gang-gang sempit penuh teriakan dan tangisan. Apakah rakyat harus membayar mahal untuk keindahan dan kekayaan alamnya sendiri? Sebenarnya ini negeri siapa Om? Maaf Om jika banyak sekali resah dalam hati dan fikiranku, tapi itulah kenyataannya Om. Kini kutuliskan surat untuk mu tentang dampak kemajuan zaman di negeri ini Om kuharap diriku dan Om So selalu bisa memperjuangkan hidup di tanah kelahirannya dengan selalu menjaga lingkungan dari tangan-tangan perampok zaman Om.

Jangan sampai kita menangis dan mengemis di negeri agraris, layaknya seorang petani yang berjuang tanpa gelar pahlawan pangan di negeri yang penuh keserakahan.

 

Demak, 25 Oktober 2020

Tertanda

 

(Keponakanmu)

 

Aku seruput kopi susu di atas meja dan mulai diriku membayangkan negara ini 10 tahun yang akan datang.

"Heyyy!!!" sentak diriku terkejut dengan suara dan tangan yang memegang pundakku tiba-tiba.

"Woey........." Langsung ku elus-elus dadaku ini.

"Melamun saja!"

 "Eh paman, ngagetin aja. Darimana paman? Kok aku gak tahu datangnya." tanyaku kepada Paman Hendi. Ia saudara laki-laki dari ayahku.

"Ya gak tahu lah, kamunya bengong melulu. Hidup itu gak usah banyak difikirkan, jalankan saja." Ujarnya.

"Ah siapa yang banyak fikiran."

"Lagi mikirin pacarmu apa?" Selorohnya kepadaku, sambil ia duduk di depan kursi yang ada di depanku.

"Tidak paman, hanya saja diriku tergerakan dengan keadaan lingkungan masyarakat saat ini." Ucapku, yang berani kukatakan secara langsung. Karena paman Hendi adalah seorang guru pendidikan kewarganegaraan, mungkin saja bisa menjadi bahan bertukar fikiran.

"Emang kenapa dengan lingkungan saat ini? Ngomong-ngomong kamu pulang kesini kapan?" Tanyanya.

"Tadi siang paman," terangku. "Jadi akhir-akhir ini semakin hari semakin kesini aku melihat banyak sekali tanah persawahan atau perkebunan disulap menjadi tanah kavlingan yang siap dibangun perumahan-perumahan atau pembangunan-pembangunan gedung dan pabrik. Disinilah hatiku terketuk, coba paman bayangkan 3-10 tahun yang akan datang, lahan-lahan persawahan dan perkebunan akan menjadi perumahan-perumahan dan gedung-gedung besar atau saja menjadi pemukiman tempat tinggal. Apa 10 tahun yang akan datang kita akan mengemis pangan dinegeri agraris? Karena dampak tiada lahan pangan?" tanyaku dengan resah.

"Kebutuhan akan tempat tinggal dan atap kerja itu juga bagian dari aspek fundamental masyarakat dalam keberlangsungan hidup nak!" jawabnya.

"Iya saya mengerti paman, karena kepadatan penduduk dan kebutuhan masyarakat itu tersendiri. Tapi apa tidak solusi lain selain mengikis lahan persawahan dan perkebunan?"

"Perkembangan model bisnis properti yang kesannya seperti menganggurkan lahan dengan menunggu pembeli kaplingan ini juga perlu di soroti sebenernya dalam negara dan ekosistem lingkungan. Berbeda dengan masyarakat desa yang memanfaatkan lahan mereka sebagai lapangan kerja atau lumbung usaha dengan tetap terus menanami sawahnya dengan padi atau tumbuhan lain. Sebenarnya semua kembali terhadap pola pemikiran masyarakat kembali. Jika tanah itu untuk dibangun roda perekonomian, maka investor atau industri yg menginginkan lahan masyarakat secara tidak langsung, sebenarnya ia juga merampas pekerjaan masyarakat, seperti halnya petani sendiri. Disinilah masyarakat harus cerdas dan bisa menilai dampak yang diberikan kepada lingkungan seperti apa. Karena pasti investor akan menjajikan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar, di ganti dengan prioritas SDM pekerja dari lingkungan terdekat, ketika dibangun suatu pabrik atau roda perekonomian disana." Terangnya dengan panjang kepadaku.

"Wah, jika masyarakat yang tidak tahu, maka ini akan merugikan dong paman?" tanyaku lagi yang ingin masih mencari lebih jauh lagi.

"Di bilang merugikan tidak, hanya saja jalannya industrialisasi dan arus global yg begitu cepat tidak sebanding dengan kesiapan SDM bangsa ini. Semua akan kembali lagi pada pola pemikiran masyarakat lagi, karena masyarakat harus pintar dan harus mampu mengikuti arus zaman. Karena seiring dengan industrialisasi yang berkembang masyarakat tani juga di tuntut untum mengembangkan model tanam yang tidak memakan banyak lahan sehingga tujuan asing akan lebih mudah untuk menanam pabrik dan gedung-gedung. Banyak aspek yang perlu disentuh lebih dalam, karena bicara soal sosial kemasyarakatan tidak cukup dengan pembahasan 1 tool saja nak!"

"Iya paman aku mengerti, sebagai masyarakat kita harus juga paham mengenai dampak lingkungan terhadapa ekosistem yang ada, jika masyarakat sudah acuh tak acuh dengan suatu perubahan yang baru. Maka kita akan sama saja mudah untuk dibodohi."

"Eh eh eh, ada takut kok gak bilang-bilang toh den," tiba-tiba suara Mbok Mi memotong pembicaraan kami.

"Hehehe, sudah keasikan ngobrol sih Mbok jadi lupa." Kataku sambil pecingisan.

"Eh Hendi, dari mana Hen? Kok tumben sendirian kesini, mana istrimu?" tanya Mbok Mi.

"Ini loh Mbok, ada titipan dari istriku suruh ngasih surat undangan dari Bu Suharti, istriku lagi membantu nyiap-nyiapin makanan disana makanya gak bisa kesini." Terang Paman Hendi.

"Oh ya sudah, dilanjutkan saja ngobrolnya, tak buatin kopi dulu."

"Iya Mbok makasih." Ucap Paman Hendi. "Yang terpenting buat Nak Raden ialah terus menggali pengetahuan, pengetahuan, dan pengetahuan. Dan itu saja tidak cukup Nak Raden harus bisa mengasa ada dan fikirannya. Menjadi masyarakat yang cerdas itu tidak mudah nak, harus mempunyai sikap dan mental yang kuat pula." Ujarnya kepadaku.

"Iya Paman aku harus tetap belajar diatas segala penderitaan dan problematika kemajuan zaman ini dan hidup harus tetap diperjuangkan paman."

Kutulis sebuah bait puisi untuk para perampok zaman ini, semoga suara sajakku sampai ke telingamu.

 

 

Perampok Zaman

 

Padi-padi jatuh gugur

Pabrik dan gedung tumbuh subur

Coba kau lihat jalanan tol itu

Coba kau lihat gedung-gedung yang megah itu

Saya berani sersumpah, dengan dalih apapun

Jika bukan karena orang kaya, jika bukan karena para penguasa

Semua itu tak akan dibuat percuma untuk rakyat jelata

 

Wahai kasihku, coba kau lihat tanah lapang itu, dimana setiap sorenya kita mengukir senyum di langit jingga dengan canda tawa

Kini lahan itu menjadi perumahan-perumahan elit yang tak tersentuh dan terjama

Ketat dengan penjaga-penjaganya

Petani mengemis di negeri agraris

Buruh berkeluh kesah di alam yang kaya raya

Apakah kita akan menjadi ayam yang mati di lumbung padi

Ataukah kita akan menjadi ikan yang haus di tengah samudra luas

 

Cucuku, negaraku sedang membuat dalih perkembangan zaman untuk kemajuan negara

Entah negara yang mana

Cucuku janganlah risau,

 Nantinya akan ku ceritakan serunya bermain air di sungai,

Asiknya melompat kesana-sini di tepian rawa.

Senangnya bermain ria dengan tawa di tengah hujan lelumpuran sawah.

Indahnya menarik mengulur layang-layang hingga lupa waktu pulang

Cucuku, kuceritakan segala keindahan, kelak agar kau tak menyesal hidup di akhir zaman

Cucuku, kini perampok zaman sedang berdalih untuk kemajuan zaman

 

Karya: Sahabat Ahmad Syafi'i

Editor: Lutfi A. Hadi

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

  Dokumen :Blog.modalku.co.id            Tepat pada tanggal 28 Oktober 2020, menjadi hari dimana sumpah pemuda di peringati. mengingat perju...

Refleksi Sumpah Pemuda Sebagai Hakekat Ujung Tombak Perjuangan

 



Dokumen :Blog.modalku.co.id


         Tepat pada tanggal 28 Oktober 2020, menjadi hari dimana sumpah pemuda di peringati. mengingat perjuangan dan semangat para pemuda Indonesia menandakan bahwa nasionalisme bukan hanya milik organisasi-organisasi politik, namun juga milik para pemuda tentunya juga para pelajar dan mahasiswa Indonesia. Sebelumnya, Hari Sumpah Pemuda pertama kali di tetapkan pada 28 oktober  1959. Hal ini di tetapkan oleh pemerintah melalui keppres No. 316 tahun 1959 tanggal 16 desember 1959. Sekarang ini, terdengar suara yang menyempitkan arti kata ‘’pejuang’’. Dalam bukunya Soekarno HattaBukan Proklamator Paksaan pengantar “ Peter Kasenda di sebutkan, pejuang itu bukanlah orang yang memanggul senjata, akan tetapi pejuang itu yang tahu peranan dan porsinya masing-masing’’.

Sebagai bukti, karya dari seniman seperti  W.R. Supratman pengarang dan pencipta lagu kebangsaan Indonesia dengan judul ‘’Indonesia Raya’’ dan lagu kebangsaan ‘’Gugur Bunga’’ karya Ismail Marzuki yang sama-sama mengandung nilai perjuangan. Ini menandakan para pemuda hari ini harus ‘’tahu diri’’, menyadari peran kemampuan dan porsinya masing-masing. Yang semuanya itu mempunyai peranan yang sangat penting demi terciptanya Negara Kesatuan Republik Indonesia  (NKRI). Sungguh ironis ketika banyak pemuda yang tidak mampu memahami apa makna yang ada dibalik peristiwa sumpah pemuda yang digaungkan ketika kongres pemuda II, bahkan menganggap momen sumpah pemuda sebagai ceremonial belaka. Padahal, pada masa itulah titik awal dimana Bangsa Indonesia di deklarasikan dengan prosesi yang penuh pengorbanan darah, jiwa dan raga, sehingga kita dapat menikmatinya kini.

Apa yang sudah di lakukan pemuda hari ini? Sudahkan meneladani apa yang sudah di lakukan oleh para pejuang kemerdekaan bangsa ini ?Coba kita membuka sejarah yang sering kita dengar, bahkan sama sekali tidak asing terdengar di kedua telinga kita semua. Bambu Runcing yang di gunakan para pejuang dulu menjadi senjata ampuh untuk mengalahkan musuh, pedang dan senjata tradisional lainnya menjadi penentu kemerdekaan bangsa Indonesia tercinta ini. Harusnya kita renungkan dimana era globalisasi yang semakin mengglobal, memudahkan kita semua mendekatkan kepada suatu hal yang instan yang serba praktis dan pragmatis.

Saya teringat tatkala membaca buku INILAH JIHADKU karya Muhammad Zulfikar Rakhmat. Pada intinya buku itu menceritakan perjuangan seorang bocah difabel yang di lahirkan dengan keterbatasan, tanpa saraf tangan dan ujung lidah yang tidak berfungsi sempurna seperti boneka tanpa nyawa. Ia berjuang bagaimana agar bisa mendapatkan pendidikan di tempat sekolah yang normal. Dan ternyata itu bukanlah mimpi belaka,walaupun cobaan , tantangan dan rintangan terus menghujam, ia berhasil mendapatkan pendidikan normal hingga sampai melanjutkan pendidikannya ke Qatar. Sampai disini bisa kita ambil poin penting. bahwa kita semua yang sehat secara fisik jangan sampai kalah semangat berjuang untuk kemajuan diri dan kemajuan bangsa.

Sebagai pemuda yang isnyaf dan sadar akan tanggung jawab anak bangsa, saya ingin mengajak para pemuda bahwa kita lah pemegang tampuk kepemimpinan kelak, bahwa di tangan kita lah nasib tanah air tercinta ini. Pemuda lah yang harus mencetak sejarah hari ini dan menentukan bagaimana masa depan Indonesia. Sebagaimana di amini oleh Ben Anderson, seorang indonesianis, dalam bukunya java in a time of revolution: Occupation & resistance, bahwa sejarah Indonesia adalah sejarah pergerakan muda.Pemuda merupakan salah satu garda terdepan dalam menentukan arah perubahan suatu bangsa, oleh karena itu marilah kita menyingsingkan lengan, merapatkan barisan dalam mensukseskan visi dan misi para leluhur kita yang telah mengorbankan jiwa dan raganya demi kemerdekaan bangsa indonesia. Sangat mustahil perubahan itu kita raih, jika kita hari ini masih berdiam diri. Jangan sampai kita malu entah kapan di pertemukan dengan para pejuang kemerdekaan dan melihat kaum muda hari ini hanya jadi pendiam.

Penulis : Sahabat Muhammad Zuhud Amri

Editor : Luthfi A. Hadi

 

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                               


1 komentar:

  Dokumen : Jabar.tribunnews.com Setelah ditandatanganinya Keputuan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 oleh Presiden Joko Widodo, maka secara resm...

Hari Santri di Tengah Pandemi

 

Dokumen : Jabar.tribunnews.com


Setelah ditandatanganinya Keputuan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 oleh Presiden Joko Widodo, maka secara resmi setiap tanggal 22 Oktober adalah diperingati sebagai Hari Santri Nasional (HSN), namun HSN ini tidak dikategorikan sebagai hari libur nasional. Dilansir dari Kompas.com, bahwa penetapan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri merupakan usulan dari internal kabinet maupun dari pihak eksternal yang terkait. Dahulu Presiden Joko Widodo berkeinginan untuk menetapkan suatu hari sebagai Hari Santri Nasional, namun saat itu yang ia usulkan adalah pada tanggal 1 Muharram. Sementara itu, menurut Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama’ (PBNU) KH. Said Aqil Siradj, beliau menuturkan bahwa yang lebih tepat dijadikan sebagai acuan penetapan Hari Santri adalah pada tanggal 22 Oktober 1945, karena pada tanggal tersebut terjadilah peran penting para santri yaitu dalam upaya perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dengan melawan penjajah yang membonceng NICA, ketika KH. Hasyim Asy’ari mengumunkan fatwanya yaitu Resolusi Jihad. Oleh karenanya ditetapkanlah Hari Santri Nasional setiap tanggal 22 Oktober. 

Bulan Oktober, bagi masyarakat umum tentunya hanyalah menjadi bulan biasa, namun bagi pondok pesantren terutama para santri, bulan Oktober merupakan bulan kemerdekaan kedua setelah bulan Agustus. Tentunya kita masih teringat bagaimana dahulu para santri berjuang mengangkat senjata, mengobarkan semangat di bawah panji Merah Putih, dengan pekikan takbir dari Bung Tomo. Mereka berjuang dengan penuh keikhlasan, sami’na wa atho’na atas dawuh dari Sang Maha Guru, Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari. Mengingat dari hal tersebut, dalam merayakan Hari Santri ini kita perlu untuk mengingat perjuangan para pahlawan dan kyai. Perjuangan seorang santri tidak boleh berhenti hanya sampai Indonesia merdeka, santri sebagai penerus ulama harus senantiasa mengabdi akan tugas sebagai warga negara yang baik sampai kapanpun. 

Tepat pada hari ini, 22 Oktober 2020 adalah Hari Santri Nasional yang ke-6 tahun. Pada tahun 2020 ini Kementerian Agama (Kemenag) sebegai instansi terkait mengangkat tema “Santri Sehat Indonesia Kuat”. Pemilihan tema tersebut tentunya tidak bisa terlepas dari kondisi pandemi saat ini yang terjadi di seluruh belahan bumi tak terkecuali di Indonesia, yang mana dalam Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 2020, pandemi Covid-19 ini telah ditetapkan sebagai bencana nasional. Dalam keterangan persnya, Kemenag menyampaikan bahwa sejauh ini telah banyak pondok pesantren yang telah berhasil dalam upaya pencegahan, penanganan dan meminimalisir penyebaran Covid-19 yang terjadi, hal tersebut tidak terlepas dari kedisiplinan para santri terhadap pola kehidupan yang bersih, terjaganya protokol kesehatan dan peran penting dari para Kyai dalam memberikan teladan kepada para santri. 

Pada tahun-tahun sebelumnya Hari Santri tentunya disemarakkan dengan banyak kegiatan, mulai dari upacara, kirab, lomba-lomba dan lain sebagainya. Pondok pesantren tradisional maupun modern bersama-sama menyambut Hari Santri sebagai momentum untuk membangkitkan lagi semangat perjuangan dalam menegakkan agama juga keamanan dan ketahanan negara. Berbeda dengan tahun ini yang mana kita tengah dilanda suatu hal yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Oleh karena itu inilah momen untuk menguji ketawakalan dan bagaimana ikhtiar para santri untuk bertahan dan bangkit dari masa-masa sulit. Berkaitan dengan pandemi, bagaimana para santri dapat berperan penting dalam upaya penanganan dan pencegahan penularan Covid-19 ini, bagaimana kalangan santri sebagai cerminan seorang muslim sejati yang mempunyai pedoman an-nadhofatu minal iman ini bisa membuktikan kepada masyarakat di luar sana bahwa lingkungan pondok pesantren adalah lingkungan yang bersih dan selalu menerapkan protokol kesehatan dengan baik, terlebih kemarin muncul isu bahwa pondok pesantren banyak memunculkan klaster-klaster baru penularan Covid-19. Oleh karena itu sebagai seorang santri, harus berperan aktif guna mematahkan stigma negatif tersebut. 

Santri sebagai salah satu bagian penting bagi pendirian negara ini tentunya harus bersatu padu guna memajukan Indonesia. Rekam jejak santri yang sangat vital dalam upaya mempertahankan kemerderkaan tentunya menambah rasa optimis kita sebagai santri untuk meneruskan perjuangan para pemimpin bangsa. Santri harus dapat menjadi teladan di setiap situasi dan kondisi, prinsip hubbul wathan minal iman yang telah tertanam harus bisa menjadi stimulus bagi santri dalam berjuang tidak hanya dalam bidang agama saja, namun juga dalam bidang sosial kebudayaan, ekonomi dan kesehatan guna membawa Indonesia menuju negara yang maju dan kuat. 

Kita menyadari bahwa tantangan dan perjuangan santri di masa depan tidak lagi berjuang mengangkat senjata untuk berperang melawan penjajah. Namun lebih dari itu, perjuangan santri akan lebih berat karena perjuangan terbesar santri adalah menuntaskan kebodohan, dan kemiskinan. Terlebih di masa pandemi ini, menjadikan santri harus lebih berperan aktif dalam upaya pencegahan dan pemutusan mata rantai penyebaran Covid-19, khususnya dalam lingkungan pondok pesantren, dan umumnya di lingkungan masyarakat seluruh Indonesia. Dengan kedisiplinan, kebiasaan pola hidup sehat santri, serta keteladanan dan kehati-hatian para kyai bersama para pemimpin pondok, tentunya akan membantu menyelesaikan problem yang kini kita hadapi bersama. Jika santri sehat maka Indonesia akan kuat.


Penulis : Muhammad Abdul Qodir

Editor : Luthfi

2 komentar:

Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo Semarang bersama pengurus PMII RADA Masa Juang 2020/2021. Selasa. (13/10/2020).  SEMARANG...

Dr. Ilyas Supena : Pengurus Rayon Harus Menjadi Contoh Yang Baik


Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo Semarang bersama pengurus PMII RADA Masa Juang 2020/2021. Selasa. (13/10/2020). 


SEMARANG-
 Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Dakwah (RADA) Komisariat UIN Walisongo Semarang mengadakan  Sowan ke rumah Bapak Ilyas Supena, Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi di Brumbung, Mranggen, Demak. Acara tersebut berlangsung sangat khidmat yang di hadiri oleh 30 kader PMII RADA dari pukul 19.00 WIB. Selasa. (13/10/2020).

Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Bapak Ilyas Supena menyampaikan bahwasanya dalam struktur birokrasi dan kegiatan Rayon belum banyak yang terlibat di dalam kegiatan PMII RADA baik terkait dengan pembimbingan karena dosen merupakan mentor pengawalan kader PMII.  Sehingga hal semacam ini menjadikan kesenggangan antara  kader muda dengan kader yang lebih tua. 

"Pengurus harus memberi contoh setiap anggotanya baik terkait militansi dan solidaritas yang kuat sehingga bisa di jadikan cerminan sebuah organisasi dalam membangun kepengurusan yang solid" Ujar beliau di rumahnya.

Beliau juga berpesan, yang baik ditingkatkan dan yang belum di usahakan dengan membangun program unggulan yang kreatif dan inovatif dari masing-masing departemen dan melihat berbagai sudut pandang untuk melihat subjektifitas dari setiap program kerja salah satunya dengan menampung setiap usulan dari para anggota PMII untuk pelaksanaan program kerja yang lebih baik. 

Sahabat Rangga mengatakan bahwa organisasi PMII merupakan organisasi yang berbasis kaderisasi yang mana kaderisasi tidak berhenti pasca kepengurusan rayon tetapi akan terus berkelanjutan mengawal kader-kader PMII sampai kapanpun sehingga sowan yang dilakukan sangat diperlukan.

"Dengan adanya silaturahmi ke birokrasi kita bisa melakukan sharing-sharing dan meminta arahan kepada beliau. Sehingga hal ini memudahkan organisasi dalam perjalanan kepengurusan selanjutnya" imbuhnya pasca diwawancarai setelah acara tersebut. 

Mandataris Ketua Rayon itu mengharapkan dengan di adakannya kegiatan ini mampu membawa dampak positif untuk semuanya. Menjalin hubungan baik kepada para senior dan dosen menjadi penyokong untuk organisasi PMII Rayon Dakwah.


Reporter : Samsul dan Ratna

0 komentar:

Kepala Bidang Ekonomi Pengurus Cabang PMII Semarang, Sahabat Santoso menyampaikan materi terkait Public Speaking. Selasa (06/10/2020). S EMA...

Sahabat Santoso: Mahasiswa Harus Memiliki Kemampuan Beretorika

Kepala Bidang Ekonomi Pengurus Cabang PMII Semarang, Sahabat Santoso menyampaikan materi terkait Public Speaking. Selasa (06/10/2020).


SEMARANG- Departemen Rumah Ide Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Dakwah (RADA) Komisariat UIN Walisongo Semarang mengadakan Kopi Darat (KopDar) secara virtual dengan tema "Pentingnya Public Speaking bagi Mahasiswa". Selasa (06/10/2020).

Acara tersebut diikuti kurang lebih 60 mahasiswa dari angkatan 2018, 2019 sampai 2020 melalui Google Meet. 

Kepala Bidang Ekonomi Pengurus Cabang PMII Semarang, Sahabat Santoso menyampaikan bahwa Mahasiswa harus memiliki kemampuan public speaking dan beretorika. 

"Dalam beretorika dibutuhkan mental yang tertata dengan baik, kita juga harus paham serta mengetahui siapa lawan bicara kita," imbuhnya saat acara KopDar berlangsung. 

Anggota PMII RADA angkatan 2013 itu menambahkan bahwa di dalam public speaking diperlukan pelatihan yang berulang, seperti Bapak Ir. Soekarno yang selalu melatih retorikanya di depan cermin setiap malam.

Koordinator Departemen Rumah Ide, Sahabat Yahya juga mengungkapkan KopDar Bincang PMII ini bertujuan untuk memperkenalkan kepada mahasiswa baru bahwasanya peralihan dunia SMA ke dunia perkuliahan membutuhkan public speaking.

"Harapannya semoga mahasiswa baru bisa mengetahui dan memahami apa itu public speaking," ujarnya saat di wawancarai usai acara tersebut. 

Mahasiswa Program Studi Bimbingan Penyuluhan Islam (BPI) itu juga berharap semoga mahasiswa baru bisa mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari khususnya dalam perkuliahan.


Reporter : Lutfhi Abd

Editor : Ratna

1 komentar:

Demisioner Ketua PMII Rayon Dakwah masa juang 2019 /2020, Sahabat Zuhud Amri memberikan sambutan pada acara tahlil dan dziba' bersama. J...

Awali Kepengurusan Baru, PMII Rayon Dakwah Menggelar Tahlil dan Dziba' Bersama

Demisioner Ketua PMII Rayon Dakwah masa juang 2019 /2020, Sahabat Zuhud Amri memberikan sambutan pada acara tahlil dan dziba' bersama. Jumat (02/10/2020). (Dok: Istimewa).


SEMARANG- Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Dakwah (RADA) Komisariat UIN Walisongo Semarang menggelar acara selametan, tahlil dan dziba' bersama sebagai bentuk rasa syukur setelah terpilihnya Mandataris Ketua PMII RADA Komisariat UIN Walisongo Semarang  masa juang 2020/2021, Sahabat Kultur Rangga Maulana. Acara tersebut bertempat di Asrama Rayon 2, Karonsih Timur, Ngaliyan, Semarang. Jumat (02/10/2020).

Dalam kegiatan tersebut dihadiri sekitar 30 orang, hadir juga Demisioner Ketua PMII RADA Komisariat UIN Walisongo Semarang masa juang 2019/2020 Sahabat Zuhud Amri.

Dalam sambutannya, Sahabat Zuhud Amri berpesan bahwa hal yang perlu diperhatikan dalam awal kepengurusan adalah menyambung silaturahmi.

"Ketika menginjak awal kepengurusan, yang perlu diperhatikan yaitu menyambung silaturahmi dengan para alumni. Meliputi dosen, dekan dan alumni-alumni PMII Rayon Dakwah lain," ungkap Zuhud Amri. 

Selain itu, hadir juga Sahabat Santoso PMII RADA Komisariat UIN Walisongo Semarang angkatan 2013 yang memberikan mauizah hasanah.

Dalam mauizah hasanahnya, ia mengatakan mengenai pentingnya merawat dan meruwat amaliyah-amaliyah Nahdlatul Ulama. 

"Sebagai kader Nadhdiyin kita wajib menyemarakkan amaliyah-amaliyah Nahdlatul Ulama karena mengingat rutinan dziba'an ini yang lambat laun mengalami penurunan," ujarnya.

Selain itu, ia juga berpesan kepada pengurus yang terpilih kedepannya untuk menyatukan tujuan kepengurusan.

"Sebelum memulai kepengurusan, sudah sepatutnya menyatukan frame yang hendak dicapai pada kepengurusan atau goal dari kepengurusan itu sendiri" Pesannya kepada pengurus baru masa juang 2020/2021.


Reporter : Luthfi A. Hadi

Editor : Luthfi

2 komentar: