PMII RAYON DAKWAH

  Aksi Blokade (May Day) di Jrakah, Ngaliyan, Semarang Sabtu,(1/5/21) Semarang, Kejora -Dalam rangka memperingati May Day Geram (Gerakan Ra...

Peringatan May Day Geram Gelar Aksi Blokade

 






Aksi Blokade (May Day) di Jrakah, Ngaliyan, Semarang
Sabtu,(1/5/21)

Semarang, Kejora-Dalam rangka memperingati May Day Geram (Gerakan Rakyat Melawan) adakan aksi blokade. Aliansi dari aksi blokade May Day yaitu dari serikat buruh dan para mahasiswa dari berbagai kampus yang ada di Kota Semarang.  Aksi tersebut diikuti oleh 100 orang dari berbagai elemen masyarakat dan mahasiswa yang dilakukan tepat di depan Pasar Jrakah, Ngaliyan, Semarang pada pukul. 12.15 WIB.  Sabtu, (1//5/21).

Sahabat Dimas yang merupakan Koordinator Sosial Politik PMII Komisariat UIN Walisongo Semarang mengatakan bahwa tujuan Aksi Blokade ini adalah sebagai refleksi May Day yang merupakan momentum bersejarah. Perihal kekuatan politik dari teman-teman buruh yang menuntut terkait hak pemotongan jam kerja, hak-hak upah, dan hak-hak dasar. Tetapi, tujuan besarnya adalah adanya Undang-Undang Cipta Kerja beserta peraturan-peraturan turunannya itu yang menjadi hajat kita bersama.

“Aksi berlangsung dengan kondusif dimulai dititik kumpul dan melakukan orasi secara bergantian untuk menyampaikan aspirasi tuntutan-tuntutan kita akan tetapi di dalam titik aksi mendapatkan tindakan represif dari aparat, ada dari temen-temen mahasiswa UIN dan UNNES dengan menggunakan alat-alat negara”  Ujarkan pasca di wawancarai pada saat aksi berlangusung.

Sahabat Dimas memaparkan persiapan yang dilakukan sebelum Aksi dilakukan. Pertama, melakukan konsolidasi tiga kali, tambah sulam apa yang menjadi gagasan-gagasan gerakan, tuntutan-tuntutan, kemudian kelola menjadi satu aspirasi Bersama untuk disampaikan. Meskipun sudah dilakukan periapan yang matang, aksi blokade ini terjadi berbagai macam kendala salah satunya tindakan represif aparat negara. Padahal Negara Indonesia merupakan negara demokrasi. Ini menjadi demoralisasi dalam gerakan karena di dalam undang-undang rakyat berhak menyampaikan aspirasinya.

 

 

Rep. Lutfi/Red.Ratna

 


0 komentar:

Refleksi PMII Rayon Dakwah Komisariat Uin Walisongo di Cafe Nirwana, Karonsih, Ngaliyan Sabtu, (17/4/21) Semarang, Kejora- Dalam rangka memp...

Refleksi Spirit Perjuangan Para Pendiri Pergerakan



Refleksi PMII Rayon Dakwah Komisariat Uin Walisongo di Cafe Nirwana, Karonsih, Ngaliyan
Sabtu, (17/4/21)

Semarang, Kejora-Dalam rangka memperingati lahirnya PMII yang ke-61, PMII Rayon Dakwah Komisariat Uin Walisongo mengadakan kegiatan refleksi bersama.  Agenda ini diselenggarakan di Cafe Nirwana, Karonsih, Ngaliyan yang dimulai pukul. 01.00 WIB.  Senin, (19/4/21)

Acara ini berlangsung khidmat yang  dihadiri oleh 30 kader PMII Rayon Dakwah dengan mengusung tema besar, " PMII Terdepan dalam Berkemajuan."

Sahabat Kultur Rangga selaku Ketua Rayon mengatakan bahwa kegiatan refleksi ini bertujuan untuk  flasback kembali dengan spirit perjuangan para pendiri pergerakan dan dengan itu, kita bisa melakukan hal yang sama dengan versi kita masing-masing.

Sahabat Joni Iskandar selaku Alumni pengurus Rayon Dakwah juga berpesan, " Gagasan-gagasan besar harus mulai lahir dan harus beriringan dalam bergerak ."


Fauzan salah satu kader PMII Rayon Dakwah sangat bersemangat setelah mengetahui semangat berjuang para pendiri PMII. 

" Saya sangat bersyukur sekali karena telah ber-PMII, karena saya sangat takjub melihat para Alumni yang memiliki integritas tinggi dapat berkumpul di tempat ini ",ujarnya.


Rep. Lutfi Abdul H/Red. Ratna

0 komentar:

  Khadijah Tauladan Muslimah  Karya: Aldhania Uwasatun Hasanah Berbicara tentang wanita, begitu banyak sosok wanita yang menginspirasi saya,...

Khadijah Tauladan Muslimah

 Khadijah Tauladan Muslimah 

Karya: Aldhania Uwasatun Hasanah



Berbicara tentang wanita, begitu banyak sosok wanita yang menginspirasi saya, entah itu dengan ke-sholehannya, kecerdasannya, kegigihannya dan baebagai hal-hal lain yang mengagumkan, namun sosok wanita seringkali di pandang sebelah mata, tidak sedikit orang di muka Bumi menganggap bahwa wanita asalnya adalah dapur dan akan kembali ke dapur, tidak ada kepantasan bagi seorang wanita untuk meniti karir atau berpendidikan, begitu konon katanya. Namun pernyata’an ini bukanlah sebuah tolak ukur yang satusatunya di jadikan landasan alih alih melemahkan hakrat wanita. tidak ada keterbatasan terhadap wanita untuk sukses dan memiliki kesetara’an dengan laki-laki. Pada dasarnya siapapun berhak menentukan bagaimana jalan hidupnya. 

Islam lahir sebagai sebuah agama yang berada di tengah-tengah kultural masyarakat arab yang penuh dengan problematika sosial. Diskriminasi dan kriminalitas menjadi hal yang lumrah dan biasa. Mulai dari diskriminasi terhadap wanita, fakir miskin dan berbagai macam kriminalitas yang bebas meraja lela. Wanita menjadi insan yang di nomor duakan, di anggap lemah dan tidak lebih mampu di banding seorang laki-laki. Kemudian lahirlah islam sebagai solusi untuk melawan realitas pemikiran yang sangat amat berlawanan dengan eksistensi kemanusia'an. Dalam islam wanita di kenal dengan makhluk mulia dan tinggi derajatnya, saya mengenal bahwa “syurga ada di telapak kaki ibu”, tidak hanya itu, wanita juga menjadi salah satu surah yang terdapat dalam AL-Qur'an yaitu surrah an-nisa (perempuan). Bahkan dalam sebuah hadits rasulullah saw, beliau menegaskan bahwa seorang ibu memiliki derajat tiga kali lebih tinggi di banding seorang ayah. Islam menyatakan bahwa wanita tidak lebih rendah dari siapapun, namun seorang wanita adalah insan yang di muliakan oleh islam. 

Perkembangan islam tidak lepas dari perjuangan dan kegigihan orang-orang mulia yang berjiwa besar. Dan di antaranya juga sosok wanita-wanita tangguh yang berperan penting dalam perjuangan perkembangan islam yang sa'at itu memiliki banyak penolakan. Saya tidak akan menceritakan seorang wanita yang berjuang tenaga untuk harta dunia, melainkan saya akan seorang wanita mulia yang kemulia'annya tidak pernah lekang oleh masa, yang mengorbankan seluruh hartanya demi menolong agamanya, sehingga ia memiliki peran penting dalam perkembangan islam. Khadijah binti khuwailid ra adalah janda kaya raya yang memilih menikah dengan seorang pemuda sederhana yang jauh 15 tahun umurnya di bawah beliau, dialah Muhammad bin abdollah. Siapa yang tidak kenal dengan Khadijah? Seorang pebisnis ulung yang di beri gelar ratu mekah karena kekayaánnya yang melimpah ruah, ia lahir di mekah pada tahun 68 sebelum hijriah, ia merupakan wanita terpandang di Zaman itu. 

Ketika Rasulullah saw di angkat oleh Allah sebagai seorang nabi, Khadijah menjadi manusia pertama yang memeluk agama islam dan mendukung penuh ajaran islam, Ia adalah sosok yang selalu siap berada di samping Nabi baik suka maupun duka, terlebih lagi di awal-awal penyebaran islam itu Nabi tidak pernah berhenti mendapat ancaman dari berbagai pihak. Namun Khadijah ra menjadi support system bagi suaminya Nabi Muhammad untuk menyebarkan agama islam. Ialah Sosok mandiri dan tidak pernah menuntut apapun kepada Nabi. 

Suatu malam yang panjang, ketika usai menerima Wahyu dari Malaikat jibril di gua hira Tubuh Nabi bergetar hebat hingga mengalami demam, karena sebelumnya beliau belum pernah mengalami kejadiau luarbiasa itu. Dengan langkah tertatih dan tenaga yang terkuras habis, nabi berjalan menyusuri kegelapan fajar menuju Rumahnya. Sesampai di rumahnya, beliau memanggil Khadijah, dengan tubuh menggigil dan lemah seraya berkata, “selimutilah aku, selimutilah aku”, Melihat keadaan Rasul yang sangat mengagetkan dan mengkhawatirkan, Khadijah ra. segera mendekap Rasulullah dengan lembut dan berusaha menenangkan hati suami yang ditaatinya. Beliau berjuang sekuat tenaga mengumpulkan mozaik-mozaik ketenangan yang sempat terpecah ketika Rasulullah datang dalam keadaan seperti itu. Setelah tenang, Rasulullah menceritakan kepada Khadijah. apa yang telah dialaminya. Rasulullah mengutarakan kekhawatirannya bahwa apa yang terjadi padanya adalah semacam ilusi yang biasa dialami oleh para penyihir atau tanda-tanda awal dari kegilaan.

Khadijah dengan lembut berkata kepada Rasulullah, “Wahai suamiku, demi Allah, Tuhan tidak akan mengecewakanmu karena sesungguhnya engkau adalah orang yang selalu memupuk dan menjaga kekeluargaan serta sanggup memikul tanggug jawab. Dirimu dikenal sebagai penolong kaum yang sengsara, sebagai tuan rumah yang menyenangkan tamu, ringan tangan dalam memberi pertolongan, selalu berbicara benar dan setia kepada amanah. Bergembiralah dan tentramkanlah hatimu. Demi Allah swt. yang menguasai diri Khadijah ra., engkau ini benar-benar akan menjadi Nabi utusan Allah bagi umat kita.” Sehingga sangat pantaslah beliau ini menyandang gelar Umahatul Mukminin, sebagai contoh figur tauladan bagi seluruh istri yang pernah, sedang dan akan ada, 

Khadijah adalah sosok yang setia menemani dakwah Rasulullah dalam keádaán apapun kemudian sampai pada titik benar-benar mengorbankan seluruh hartanya untuk agama Allah,  sehingga semasa hidupnya beliau adalah satu-satunya istri rasulullah yang tidak pernah di madu. beliau begitu sabar dan ikhlas menjalani hidupnya sebagai istri seorang Rasul yang kembali sederhana, jauh dari gemerlap harta yang dahulu di genggamnya. kekayaánnya telah habis, seringkali tidak ada makanan untuk di makan. Sampai-sampai ketika Fatimah masih dalam buaian dan menyusui, bukan asi yang keluar akan tetapi darahlah yang masuk ke dalam mulut Fatimah ra. 

Di kisahkan pada suatu ketika, Rasulullah pulang dari berdakwah yang menghadapi segala bentuk caci maki serta fitnah manusia, beliau-pun berbaring di pangkuan Khadijah, dan ia tertidur, ketika itu Khadijah membelai lembut kepala Rasulullah dengan penuh  kasih sayang. Dan tak menyadarinya, air mata Khadijah jatuh membasahi pipi Rasulullah. Rasulullah pun terjaga dari tidurnya seraya berkata lembut kepada Khadijah. "Wahai Khadijah, Mengapa engkau menangis? Adakah engkau menyesal bersuamikan aku, Muhammad?. Dahulu engkau wanita bangsawan, engkau mulia, engkau hartawan. Namun hari ini engkau telah dihina orang. Semua orang telah menjauhi dirimu. Seluruh kekayaanmu habis. Adakah   engkau menyesal wahai Khadijah bersuamikan aku, Muhammad?" Rasulullah tak kuasa melihat istrinya menangis. 

Kemudan Khadijah menjawab "Wahai suamiku. Wahai Nabi Allah. Bukan itu yang kutangiskan.. dahulu aku memiliki kemuliaan. Kemuliaan itu telah aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya. dahulu aku adalah bangsawan. Kebangsawanan itu juga aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya. dahulu aku memiliki harta kekayaan. Seluruh kekayaan itupun telah aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya.”

"Wahai Rasulullah. Sekarang aku tak punya apa-apa lagi. Tetapi engkau masih terus memperjuangkan agama ini. Wahai Rasulullah. Sekiranya nanti aku mati sedangkan perjuanganmu ini belum selesai, sekiranya engkau hendak menyebrangi sebuah lautan, sekiranya engkau hendak menyebarangi sungai namun engkau tidak memperoleh rakit pun atau pun jembatan. Maka galilah lubang kuburku, ambilah tulang belulangku. Jadikanlah sebagai jembatan untuk engkau menyebrangi sungai itu supaya engkau bisa berjumpa dengan manusia dan melanjutkan dakwahmu. Ingatkan mereka tentang kebesaran Allah. Ingatkan mereka kepada yang hak. Ajak mereka kepada Islam, wahai Rasulullah.”

Khadijah benar-benar menjadi perisai pada awal perjuangan penyebaran agama islam, ia mengorbankan segalanya untuk Allah dan Rasulullah, hingga sampai pada akhir hayatnya, beliau meninggal hanya berbekal selembar sorban dari Rasulullah saw. Perjalanan hidunya, Khadijah bisa kita jadikan tauladan untuk wanita masa kini bahwa bermanfa’at untuk kebaikan maslahat lebih baik jika di banding dengan hura-hura memeras keringat orangtua untuk hal-hal yang tidak ada gunanya. Untuk mendapat kemulia’an kita harus menjadi manusia yang memiliki empati yang tinggi kepada sesama, royal dalam kebaikan, serta ikhlas dalam perjuangan. sebagai seorang wanita saya sangat berharap bahwa kita mampu mematahkan opini sebagian orang yang mengatakan kita lemah dan tidak lebih mampu, ini salah! Bahwa setiap wanita berhak menempatkan dirinya pada posisi yang setara, sebagai seseorang yang unggul, serta mampu memberi perubahan pada setiap bidang yang di tekuninya.

0 komentar:

  Sekolah Advokasi di Desa Karangsari, Ngaliyan, Semarang Minggu, 11 April 2021 Semarang, Kejora -Lembaga Advokasi Rayon (LAR) Rayon Dakwah ...

Sekolah Advokasi Meningkatkan Kepekaan Kader Terhadap Isu Sosial

 


Sekolah Advokasi di Desa Karangsari, Ngaliyan, Semarang
Minggu, 11 April 2021

Semarang, Kejora-Lembaga Advokasi Rayon (LAR) Rayon Dakwah Komisariat Walisongo Semarang adakan Sekolah Advokasi yang mengusung tema,”Tebentuknya Pribadi Kader PMII yang Kritis, Responsif serta Peduli terhadap Isu Sosial sebagai Wujud Implementasi Nilai dasar Pergerakan” dengan tujuan membentuk kegiatan kader-kader PMII rayon dakwah yang kritis serta peka terhadap fenomena sosial yang ada. 

Kegiatan ini di mulai pukul. 10.00 WIB  di Desa Karangsari yang di hadiri oleh 23 peserta.  Agenda Sekolah Advokasi ini mengangkat berbagai topik yang di dikemas dalam materi kegiatan dari Ruang Lingkup Advokasi, Advokasi Anak, Advokasi Bantuan Hukum, dan Manajemen Advokasi. Hal ini sebagai bentuk pergerakan  untuk mewujudkan nilai dasar pergerakan PMII dasar itu sendiri khususnya supaya mampu berkontribusi mengajar anak-anak dalam kegiatan Marginal School di Desa karangsari, Ngaliyan, Semarang. Sabtu,(10/4/21)

Sahabat Ahsan selaku ketua panitia mengatakan bahwa sebelum Sekolah Advokasi dilaksanakan  para peserta sudah dibekali pengantar advokasi pada saat kegiatan pra sekolah advokasi agar para peserta mengenal apa itu advokasi.

“Kendala-kendala dalam Sekolah Advokasi yaitu keterbatasannya peserta yang mengikuti acara tersebut.  Peserta sekitar 23 orang padahal yang mendaftar sekitar 30 orang. Hal ini karena pandemi yang belum juga usai sehingga beberapa dari mereka tidak diizinkan oleh orangtuanya untuk hadir secara langsung" imbuhnya setelah di wawancarai saat kegiatan berlangsung.

Bapak Luluk selaku tokoh masyarakat mengungkapkan bahwa dengan adanya Sekolah Advokasi masyarakat bisa mendapatkan informasi mengenai berbagai pengetahuan tentang kemasyarakatan dan penguatan berjuang bersama serta tingkatan pendidikan anak.


Rep. M. Supriyadi

Red. Ratna

0 komentar:

Workshop Teater Soko Bumi di Klenting Kuning Minggu, (11/4/21) Workshop di gelar oleh Lembaga Teater Soko Bumi PMII Rayon Dakwah Komisariat ...



Workshop Teater Soko Bumi di Klenting Kuning
Minggu, (11/4/21)


Workshop di gelar oleh Lembaga Teater Soko Bumi PMII Rayon Dakwah Komisariat UIN Walisongo Semarang dengan mengusung tema,"Memayu Wayuning Darba Mandoko" yang bermakna mempertahankan, memperjuangkan wadah dalam kodrat aslinya, dan menghiasi diri dengan sebuah karya. Jum'at, (9/4/21)

Kegiatan ini diselenggarakan di Klenting Kuning yang bertujuan untuk mewadahi calon-calon sedulur baru Teater Soko Bumi yang memiliki minat dalam bidang kesenian. Workshop dimulai pukul. 21.00 dengan di hadiri oleh 11 peserta. 

Sahabat Agung Setiawan, Kepala Suku TSB mengungkapkan bahwa sebelum workshop dilaksanakan, semua peserta mengikuti pra workshop untuk menjadi bekal awal dengan penyampaikan materi tentang semua divisi yang ada di Lembaga TSB baik Seni Musik, Seni Rupa, Seni Tari, dan Akustik. Kemudian,olah rasa, olah vokal, dan olah tubuh dilaksanakan pada saat Workshop.

"Semoga sedulur TSB bisa berjuang dan mampu mempertahankan kemampuan dan kemauannya di dalam Lembaga atau pun di ranah pergerakan" pesannya. 

Sahabat Farhan selaku ketua penyelenggara mengatakan bahwa kegiatan Workshop TSB kali ini berjalan dengan lancar tanpa kendala. Sebelumnya, seluruh panitia juga sudah menyiapkan agenda tersebut dengan sedemikian rupa. 

Sahabat Farhan juga berharap sedulur TSB  tetap semangat, lebih baik dari sebelumnya, dan bisa bermanfaat untuk Nusa dan Bangsa. 

Rep. Ratna

0 komentar:

Diklat Satrada di Curug Semirang Sabtu, (3/4/21)   Semarang-Pmiirada.co.id , Lembaga Satrada PMII Rayon Dakwah Komisariat Walisongo Semarang...

Diklat Satrada Membentuk Kader Yang Loyalitas dan Progresifitas


Diklat Satrada di Curug Semirang
Sabtu, (3/4/21)

 Semarang-Pmiirada.co.id, Lembaga Satrada PMII Rayon Dakwah Komisariat Walisongo Semarang adakan Diklat Satrada dengan mengusung tema, Menanamkan Jiwa Loyalitas dan Progresifitas pada Kader Rayon Dakwah” yang di mulai pukul. 13.00 WIB di Curug Semirang yang dihadiri oleh 11 peserta. Sabtu, (3/4/21).

Kegiatan ini bertujuan untuk menata pondasi sahabat-sahabati rayon dakwah untuk membangun loyalitas, public speaking, dan cara berpikir anggota Satrada maju ke depan serta ma,pu menjadi pelopor dalam setiap kegiatan di PMII Rayon Dakwah. Agenda ini terdiri dengan beberapa materi dari Sejarah Berdirinya Satrada, Leadership Kepeloporan, Sosial Politik dan yang terakhir Seting Aksi.

Sahabat Emir selaku koordinator Lembaga Satrada mengatakan bahwa pengangkatan tema untuk membentuk kader yang loyal kemudian jika sudah terbentuk akan diarahkan ke dalam pribadi yang lebih progresif. Hal ini bermakna untuk terus memperbaiki ke arah yang lebih baik dari sebelumnya. 

Sahabat Emir berharap untuk kedepannya setelah kader-kader Satrada di tempa sejak dini, mereka mampu menjadi pelopor dan mampu menjadi kader yang mudah beradaptasi sehingga bisa di tempatkan berbagai sektor yang menjadi kebutuhan Rayon Dakwah.

“Sebelum Diklat terselenggara dari Lembaga Satrada ada diskusi-diskusi kecil dengan calon anggota Satrada dan juga ada meet up yang membahas terkait materi dan teknisi dari diklat itu sendiri” ujar Sahabat Alfin selaku ketua panitia.

Sahabat Alfin mengungkapkan dalam pelaksanaan diklat memiliki berbagai kendala yaitu panitia yang sangat minim sehingga konsep dan teknis masih belum terarah kemudian minimnya senior yang hadir, hanya ada dua senior yang bisa menghadiri acara Dilkat tersebut.

Harapan dari Sahabat Alfin untuk kedepannya, anggota Satrada mampu menanamkan jiwa-jiwa Leadership, Peka terhadap isu-isu sosial dan politik, orator yang paham akan aksi serta menjadi tokoh pelopor di Satrada. 


Rep. Ratna

0 komentar:

Workshop Jurnalistik di MWC NU Gunungpati Minggu, (4/4/21) Semarang-Pmiirada.co.id , Lembaga Kejora PMII Rayon Dakwah Komisariat Walisongo S...

Menuju Gerbang Awal Kader, Lembaga Kejora Agendakan Workshop Kejurnalistikan


Workshop Jurnalistik di MWC NU Gunungpati
Minggu, (4/4/21)

Semarang-Pmiirada.co.id, Lembaga Kejora PMII Rayon Dakwah Komisariat Walisongo Semarang adakan Workshop Jurnalistik dengan mengusung tema,”Memupuk Semangat Jurnalis, Demi terbentuknya Kader yang Berintegritas dan Berkompeten” yang di mulai pukul. 16.00 WIB di MWC NU Gunungpati yang dihadiri oleh 9 peserta.

Kegiatan ini berlangsung dengan khidmat. Agenda di mulai dengan beberapa materi dari Fotografi yang disampaikan oleh Sahabat Abdul Ghoni, Kejurnalisitikan dipaparkan oleh Sahabat Ibnu Ato’ilah kemudian yang terakhir bincang sastra yang diisi oleh Sahabat Arif Hidayat. Selain pemaparan juga ada sesi tanya jawab sehingga diskusi berjalan, hal ini mampu memberikan pemahaman kepada peserta melalui komunikasi dua arah. 

Sahabat Lutfi Abdul Hadi selaku koordinator Lembaga Kejora mengatakan bahwa mempelajari ilmu kejurnalistikan sangat di perlukan di tengah persoalan kebebasan pers yang entah berjalan ke arah mana. Dengan adanya problematika seperti itu, Lembaga Kejora memfasilitasi kader-kader 2020 sebagai generasi masa depan untuk lebih mengerti tentang pentingnya ilmu kejurnalistikan.

Sahabat Lutfi juga berharap semoga setelah Workshop Kejurnalistikan ini usai, kader-kader 2020 tidak berhenti dalam berproses di Kejora tetapi harus lebih giat dalam mengarungi pahitnya mendalami ilmu kejurnalistikan.

“Harapan besar bagi saya, semoga para pendekar pena akan lahir dari rahim PMII Rayon Dakwah” imbuhnya setelah di wawancarai pasca kegiatan.

Sahabat Imam Yahya selaku Ketua Panitia juga mengungkapkan bahwa bahwa dalam persiapan acara Workshop Kejurnalistikan memerlukan pematangan konsep selain itu kita juga harus saling support antara satu dengan yang lain. Dengan begitu, acara ini berjalan dengan semestinya, meski ada beberapa kendala.

“Untuk kendalanya yaitu minimnya peserta yang mengikuti Workshop. Sebenarnya untuk minat dari peserta sendiri itu cukup banyak tetapi tidak bisa di pungkiri bahwa Pandemi Covid-19 memberikan efek hampir di semua sektor. Peserta tidak mendapat izin dari orang tua dan ada juga yang memiliki agenda dalam waktu yang bersamaan” ujarnya.

Sahabat Imam berpesan untuk sahabat-sahabati Sadewa 2020 untuk terus berproses dan lebih baik lagi, karena ini baru langkah awal.

Selain mendapatkan materi mereka juga melakukan hunting berita yang dibuat tiga kelompok, kemudian masing-masing kelompok mendapatkan dua Penanggungjawab sebagai fasilitator. Mereka di bagi ke rute masing-masing dari destinasi wisata, kuliner, dan usaha UMKM tanaman hias. Hunting berita memberikan ide untuk peserta membuat produksi karya sesuai dengan rubrikasi yang telah di tentukan yaitu berita, artikel, opini, dan sastra. 

Agenda di tutup dengan pemilihan ketua angkatan Kejora 2020 dan pembuatan nama angkatan. Sahabat Teguh terpilih menjadi ketua angkatan Kejora dengan nama Angkatan Agn1stik (Angkatan Pertama Jurnalistik).  Sabtu, (4/4/21)

0 komentar: